Pendidikan Indonesia sudah seharusnya menerapkan metode Empat pilar belajar:
1. belajar mengetahui (learning to know),
2. belajar berbuat (learning to do),
3. belajar hidup bersama (learning to life togethers), dan
4. belajar menjadi seseorang (learning to be)
Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut artikel yang dibuat oleh Waras Kamdi, Kepala Pusat Kurikulum, Pengembangan Pembelajaran dan Evaluasi, LP3 Universitas Negeri Malang.
Geliat Ber-KBK di Perguruan Tinggi
Waras Kamdi
TAHUN 2004 adalah deadline bagi perguruan tinggi untuk memulai penerapan Kepmendiknas Nomor 045/U/2002 tentang kurikulum inti (nasional). Kurikulum yang diklaim berbasis kompetensi itu (Kompas Jatim, 23/6) diilhami oleh-dan kemudian menjadi bentuk responsi terhadap-hasil kerja Komisi Internasional bentukan UNESCO tentang Pendidikan untuk Abad 21.
Komisi pimpinan Jecques Delors itu merekomendasi, jika pendidikan ingin berhasil melaksanakan tugasnya, hendaklah dibangun di sekitar empat jenis belajar yang fundamental sifatnya, yang dapat dikatakan sebagai pilar pengetahuan. Keempat pilar belajar itu adalah belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama (learning to life togethers), dan belajar menjadi seseorang (learning to be). Rekomendasi ini lalu fasih disebut orang sebagai "rekomendasi Delors" atau "empat pilar UNESCO".
Pesan yang ingin disampaikan adalah pertumbuhan pengetahuan yang demikian masif di abad pengetahuan ini tak akan lagi mampu dikejar institusi pendidikan yang bertumpu pada paradigma "pembekalan" banyak pengetahuan. Asumsi bahwa pendidikan yang membekali banyak pengetahuan menjamin siswa kelak akan berhasil dalam hidupnya tak memadai lagi.
Maka, kurikulum berbasis isi (KBI) yang telah mengakar di pendidikan formal kita dipandang tak memadai lagi dan perlu berpaling ke kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Tegasnya, Delors dan kawan- kawan merekomendasikan perlunya "dematerialisasi" kurikulum.
NAMUN, manakala empat pilar pendidikan ini dipandang ideal untuk melandasi semangat pengembangan KBK di perguruan tinggi telah terjadi bias interpretasi atas rekomendasi itu oleh para pengembang KBK. Bias ini terjadi secara bertingkat. Pertama, pada tingkat pengembangan kurikulum nasional (kurnas). Kurnas masih bernalar "materialisasi". Secara segregatif mata kuliah dikelompokkan menjadi: kelompok mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), kelompok mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), kelompok mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB), kelompok mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan kelompok mata kuliah Berkehidupan Bersama (MBB). Akibat pengelompokan ini, kurikulum justru terperangkap ke ranah disintegrasi. Ini mengingkari semangat KBK yang menghendaki kurikulum terintegrasi.
Kedua, akibat format kurnas, geliat pengembangan kurikulum di tingkat perguruan tinggi cenderung terpeleset pada nalar rumpun isi, bukan nalar konstruk dan jenjang kompetensi yang dikehendaki. MKK disejajarkan dengan learning to know, seakan-akan hanya mengemban tugas membekali pengetahuan; MKB disejajarkan dengan learning to do, seakan-akan hanya mengemban tugas membekali keterampilan aplikatif (praktikal); MBB disejajarkan learning to life togethers, seakan-akan hanya mengemban tugas membekali kemampuan bermasyarakat; MPK dan MPB disejajarkan dengan learning to be, seakan- akan hanya mengemban tugas membentuk kepribadian. Akibatnya, saat dihadapkan pada tuntutan pengembangan "kurikulum lokal" (harap tidak dibaca "kurikulum muatan lokal") yang diharapkan menjadi center of excellent perguruan tinggi, yang terjadi lagi-lagi "tambal sulam" mata kuliah yang dianggap memberi penguatan kompetensi, bukan analisis cermat rekonstruksi kompetensi itu sendiri.
Konstruk kurnas yang secara jelas menampilkan pola segregatif ini telah menggelincirkan interpretasi ke tataran paling dangkal bahwa MKK berisi kelompok mata kuliah berbau dasar dan teoretik, MKB berisi kelompok mata kuliah berbau praktik, MBB berisi kelompok mata kuliah yang berbau lapangan, serta MPK dan MPB berisi kelompok mata kuliah berbau normatif. Seolah-olah learning to know menjadi kapling MKK, learning to do menjadi kapling MKB, learning to life togethers menjadi kapling MBB, serta learning to be menjadi kapling MPK dan MPB saja.
PENERJEMAHAN pilar pendidikan menjadi muatan sekelompok mata kuliah tidak lain merupakan bentuk kembalinya "materialisasi" kurikulum, yang sebenarnya merupakan antesis KBK. Jadi, tidak terlalu salah jika dikatakan, Kepmendiknas No 045/U/2002 tidak layak diklaim sebagai KBK. Meski kehendaknya berbasis kompetensi, kenyataannya berbasis isi.
Ini karena misinterpretasi atau miskonsepsi, yang berujung pada simplifikasi makna empat pilar pendidikan itu. Learning to know yang dimaksud Delors bukan sekadar jenis belajar memperoleh informasi yang sudah dikodifikasi atau dirinci, tetapi menguasai instrumen-instrumen pengetahuan itu sendiri. Instrumen-instrumen pengetahuan ini memampukan orang untuk memahami sedikitnya tentang lingkungannya untuk dapat hidup dengan harkat, untuk mengembangkan kecakapan kerja, dan untuk berkomunikasi selain mendasari kegemaran untuk memahami, mengetahui, dan menemukan dalam kerangka membangun pengetahuan. Penting bagi semua anak di mana pun untuk mampu mengembangkan strategi belajar dan memperoleh pengetahuan tentang metode ilmiah. Dalam pandangan masa depan, pendidikan tak memadai lagi untuk menyediakan seonggok pengetahuan bagi anak untuk digunakan sebagai bekal hidup selanjutnya.
Demikian juga, learning to do, jenis belajar ini tidak sesederhana konsep tradisional dengan mengajar anak-anak mempraktikkan apa yang sudah dipelajari dalam rangka mempersiapkan seseorang untuk tugas praktis pembuatan sesuatu, tetapi lebih merupakan representasi belajar kecakapan hidup, suatu kecakapan yang memadukan sejumlah unsur keterampilan kognitif, keterampilan teknikal (praktikal), dan sikap (keterampilan sosial/humaniora).
Sedangkan, learning to life together merupakan antesis dari berbagai bentuk-kompetisi, persaingan, perselisihan, petengkaran, dan peperangan-dalam berbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Semangat yang dibangun dalam belajar adalah kecakapan unjuk kerja yang dilandasi perdamaian, kebersamaan, keselarasan, dan keserasian berkehidupan melalui usaha- usaha atau kerja kolaboratif guna mencapai tujuan bersama, bukan membangun semangat kompetisi.
Ketiga pilar itu yang akan memberi kontribusi terhadap learning to be (belajar menjadi seseorang) merupakan tujuan akhir dari proses belajar. Jenis belajar ini bertumpu pada asumsi, manusia belajar bagi dirinya sendiri untuk pemenuhan perkembangan seutuhnya tiap manusia-jiwa dan raga-inteligensi, kepekaan, tanggung jawab pribadi, dan nilai-nilai spiritual.
JELAS, keempat pilar itu merupakan proses, bukan entitas isi. Pendidikan masa depan hendaknya memandang kurikulum bukan lagi sebagai sekumpulan materi pengetahuan atau seperangkat keterampilan teknis-diskret tentang cara membuat atau melakukan sesuatu. Kurikulum hendaknya dipandang secara lebih luas sebagai wahana belajar untuk membangun instrumen- instrumen pengetahuan, mengembangkan kompetensi (baca: kecakapan hidup), mengembangkan kepekaan sosial, dan membangun kepribadian yang utuh.
Implikasi selanjutnya adalah pembelajaran bukan penerusan isi materi kurikulum, tetapi pencapaian kompetensi (baca: satu kesatuan utuh unjuk kerja yang bersendi learning to know, learning to do, learning to life togethers, dan learning to be). Karena keempat pilar pendidikan itu merupakan proses-bukan entitas isi- pengejawantahannya dalam pembelajaran adalah terintegrasi, melebur, menyatu, bersenyawa dalam semua mata pelajaran; bukan segregatif sebagaimana tertuang dalam Kepmendiknas No 045/U/2002.
Waras Kamdi Kepala Pusat Kurikulum, Pengembangan Pembelajaran dan Evaluasi, LP3 Universitas Negeri Malang
Sunday, September 10, 2006
Nutrigenomik, Era Baru Ilmu Pangan dan Gizi
Manusia tidak ada yang sama persis. Biarpun dia kembar. Nah, jika jelas-jelas tidak sama, maka setiap manusia memiliki pola makan yang berbeda. Berikut artikel yang ditulis oleh Prof Dr Sri Raharjo dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada tentang ilmu baru dalam bagian Ilmu Pangan dan Gizi yang bernama Nutrigenomik.
Nutrigenomik, Era Baru Ilmu Pangan dan Gizi
Sri Raharjo
BANYAK hal yang menjadi pertimbangan bagi konsumen untuk memilih, membeli, dan mengonsumsi makanan, baik untuk dirinya sendiri, anggota keluarganya, maupun orang lain yang menjadi tanggung jawabnya. Cita rasa jelas menjadi faktor utama, selanjutnya pertimbangan harga, kepraktisan penyajian, kemudahan mendapatkan, dan manfaat bagi kesehatan bisa berubah urutannya tergantung kondisi konsumen.
MASYARAKAT dewasa ini semakin meyakini bahwa melalui konsumsi makanan mereka bisa memelihara kesehatan dan menghindarkan diri dari risiko menderita sakit. Mereka yang berusaha mengendalikan kadar kolesterol darah berusaha menghindari lemak hewani. Yang ingin menjaga struktur tulang yang kokoh akan mengutamakan, misalnya, mengonsumsi susu sebagai sumber kalsium. Yang ingin mencegah risiko kanker usus besar (kolon) akan mengonsumsi makanan berserat. Yang ingin mengendalikan berat badan akan memperhatikan nilai kalori makanannya.
Pemahaman masyarakat tersebut muncul karena advokasi atau rekomendasi dari para ahli berbagai asosiasi profesi yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Rekomendasi tersebut disebarluaskan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui konsumsi makanan. Namun, masyarakat juga sering bingung ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa jenis makanan yang sama dikonsumsi oleh individu yang berbeda menimbulkan efek yang berbeda pula.
Hal yang kurang disadari adalah walaupun secara genetik memiliki kesamaan hingga 99,9 persen, semua manusia masih menyisakan 0,1 persen perbedaan yang justru menjadi pembeda antarindividu. Dengan kata lain, bisa dipahami bahwa tidak ada dua individu yang semuanya sama persis sekalipun mereka saudara kembar. Dalam perjalanan usia tidak ada dua individu yang memiliki "sejarah" makan dan kegiatan yang sama persis. Demikian pula kondisi psikologis dan fisiologis tubuh manusia tidaklah stabil selama 24 jam.
Hal-hal inilah yang ditengarai sebagai penyebab kenapa penelitian menggunakan hewan coba ataupun manusia hasil- hasilnya sering saling kontradiksi. Lebih parah lagi kalau perbedaan hasil penelitian ini diatasi dengan saling menyalahkan antarpeneliti.
Hubungan antara konsumsi makanan dan beragamnnya respons pada berbagai individu dengan latar belakang genetik yang berbeda sudah lama diketahui, misalnya pada kasus galaktosemia dan phenylketonuria (PKU). Galaktosemia, pertama kali ditemukan tahun 1917 oleh F Goppart, adalah varian genetik di mana individu sejak lahir tidak memiliki kemampuan memetabolisme galaktosa (tidak memiliki aktivitas enzim galaktosa-1-phosphat uridyltranferase).
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumi makanan yang mengandung galaktosa akan terjadi akumulasi galaktosa dalam darahnya yang berimplikasi munculya berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pertumbuhan mental. PKU, ditemukan tahun 1934 oleh Asbjorn Folling, adalah varian genetik pada individu yang menyebabkan tidak adanya aktivitas enzim phenilalanin hidroksilase.
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumsi makanan yang mengandung phenilalanin akan terjadi akumulasi phenilalanin dalam darahnya yang bisa berakibat terjadinya kerusakan neurologis. Namun, adanya kedua varian tersebut sudah bisa diketahui sejak dini setelah lahir dan ditangani dengan mengelola makanannya agar rendah galaktosa atau rendah phenilalanin.
Dengan semakin majunya perkembangan ilmu gizi, biologi molekuler, genetika molekuler, patologi, toksikologi, fisiologi, dan bioinformatika telah membawa kemajuan pengetahuan manusia menuju dunia ilmu yang baru yang disebut Nutrigenomik. Nutrigenomik mempelajari interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dan pengaruhnya pada pola- pola ekspresi gen.
Dalam hal ini termasuk juga interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dengan sitesis protein, degradasi protein, dan modifikasi protein yang keseluruhannya bermuara pada metabolisme sel. Munculnya ilmu baru ini dilandasi oleh beberapa fakta yang telah diketahui hingga saat terakhir ini.
Pertama, zat-zat kimia pada makanan berpengaruh pada gen-gen manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bisa mengganggu ekspresi gen.
Kedua, dalam kondisi tertentu atau pada individu tertentu, zat-zat bioaktif makanan bisa menjadi pemicu yang menyebabkan sakit. Ketiga, sejauh mana zat makanan berpengaruh menyehatkan atau menyebabkan sakit bagi individu tergantung pada kondisi genetik masing-masing. Keempat, konsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada pengetahuan kebutuhan gizi, status gizi, dan genotipe individu bisa diarahkan untuk mencegah, mengendalikan, atau bahkan menyembuhkan penyakit kronis.
DI atas sudah dijelaskan bahwa masing-masing kita sebagai individu memiliki perbedaan genetik dan pola tanggap terhadap zat-zat makanan. Sekarang dari sisi makanan itu sendiri ternyata juga sangat kompleks dan beragam kandungan zat-zat bioaktifnya. Pada berbagai penelitian secara klinis yang ditujukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan zat makanan tertentu (misalnya: lemak rendah vs tinggi, atau lemak jenuh vs tidak jenuh) sering menghasilkan efek yang berbeda-beda. Hal ini juga bisa disebabkan oleh komposisi makanan yang terdiri dari berbagai komponen minor (kadarnya rendah) yang macamnya sangat banyak.
Untuk mempengaruhi terjadinya perubahan pada tahap ekspresi gen ataupun status metabolisme sel, mungkin komponen minor inilah yang secara efektif berperan. Misalnya untuk menu yang disiapkan atau diolah dengan menambahkan minyak jagung, maka bukan hanya asam lemak tidak jenuh (85 persen) yang ada pada minyak jagung tersebut, namun terdapat juga asam lemak jenuh (13 persen).
Bukan hanya itu, di dalam minyak jagung tersebut juga masih ditemukan berpuluh-puluh macam senyawa lain, misalnya kelompok sterol, sterol asam lemak, tokoferol. Pada tokoferol sendiri bisa terdiri dari alfa, beta, gama, dan delta tokoferol. Demikian pula pada minyak nabati yang lain yang telah dimurnikan sekalipun masih mengandung senyawa- senyawa tersebut dalam jumlah yang sangat kecil (ppm).
HASIL penelitian dari banyak studi ada yang secara konsisten menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya penyakit kronis dan tingkat keparahannya. Meskipun demikian, secara jelas mekanisme hubungan keduanya belum bisa disimpulkan secara meyakinkan sebagai sebab-akibat. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh adanya zat-zat bioaktif lain yang macamnya dan kadarnya tidak bisa dijaga agar 100 persen selalu sama.
Zat bioaktif pada makanan bisa mempengaruhi ekspresi gen baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada tingkat sel, zat bioaktif ada makanan bisa (1) berperan sebagai ligan (penyambung) reseptor faktor transkripsi, (2) dimetabolisme melalui jalur metabolik primer atau sekunder, dan (3) mempengaruhi jalur pemrosesan sinyal untuk "komunikasi" di dalam atau di luar sel.
Bertambahnya pengetahuan baru di lingkup nutrigenomik selanjutnya akan berdampak pada makin tipisnya batasan antara makanan dan obat. Perbedaan definisi obat dan makanan yang sekarang ada akan mendapat tantangan baru dengan makin majunya nutrigenomik pada dekade mendatang.
Pada waktu lampau para ahli pangan dan gizi hanya bisa menduga bahwa komponen bioaktif pada makanan memiliki pengaruh terhadap proses-proses yang berlangsung di dalam sel. Sekarang mulai muncul bukti-bukti yang mengarah ke situ dan makin banyak terkumpul dari waktu ke waktu. Ini bukan berarti bahwa makanan di masa datang harus diregulasi seperti obat. Hanya saja, harus mulai disadari bahwa peranan komponen bioaktif pada makanan kesehatan dan kebugaran konsumen makin nyata.
LALU, bagaimanakah dampak munculnya nutrigenomik terhadap industri pangan ? Seperti halnya pemasaran produk-produk makanan fungsional yang mulai banyak beredar dan dikonsumsi masyarakat segmen tertentu, maka nutrigenomik akan menjadi dasar untuk membuka era baru industri makanan kesehatan di masa depan. Hanya segmen tertentu dari konsumen yang akan memiliki peluang untuk mencoba menggunakan produk-produk yang didasari oleh pengetahuan nutrigenomik. Pada tahap awalnya yang diperlukan konsumen adalah adanya layanan bagi mereka untuk mengetahui pola- pola genetik yang berbeda secara spesifik antarindividu.
Selanjutnya berkembang menuju tersedianya metode monitoring terhadap penanda biologis untuk mengetahui sejauh mana latar belakang genetik memberikan respons terhadap makanan. Pada saat yang bersamaan, industri makanan akan mulai mengembangkan, memproduksi, dan menghadirkan produk-produk baru dengan muatan nutrigenomik yang makin kuat.
Akhirnya masyarakat konsumen memerlukan layanan konsultasi atau konseling untuk memahami arti hasil uji latar belakang genetik dan hubungannya dengan pilihan makanan yang memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Bagi industri pengolah produk pangan jelas bahwa munculnya nutrigenomik tidak bisa lagi dihadapi dengan cara produksi dengan pola lama.
Mengingat demikian banyaknya komponen keahlian yang terlibat, industri perlu membangun atau memperkuat kemitraannya dengan berbagai partner bisnis, termasuk institusi penelitian yang relevan. Sekalipun nutrigenomik diawali di negara-negara maju, bagi Indonesia memiliki peluang yang tidak kalah besar untuk memajukan bidang ini.
***
Prof Dr Sri Raharjo Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada �
Nutrigenomik, Era Baru Ilmu Pangan dan Gizi
Sri Raharjo
BANYAK hal yang menjadi pertimbangan bagi konsumen untuk memilih, membeli, dan mengonsumsi makanan, baik untuk dirinya sendiri, anggota keluarganya, maupun orang lain yang menjadi tanggung jawabnya. Cita rasa jelas menjadi faktor utama, selanjutnya pertimbangan harga, kepraktisan penyajian, kemudahan mendapatkan, dan manfaat bagi kesehatan bisa berubah urutannya tergantung kondisi konsumen.
MASYARAKAT dewasa ini semakin meyakini bahwa melalui konsumsi makanan mereka bisa memelihara kesehatan dan menghindarkan diri dari risiko menderita sakit. Mereka yang berusaha mengendalikan kadar kolesterol darah berusaha menghindari lemak hewani. Yang ingin menjaga struktur tulang yang kokoh akan mengutamakan, misalnya, mengonsumsi susu sebagai sumber kalsium. Yang ingin mencegah risiko kanker usus besar (kolon) akan mengonsumsi makanan berserat. Yang ingin mengendalikan berat badan akan memperhatikan nilai kalori makanannya.
Pemahaman masyarakat tersebut muncul karena advokasi atau rekomendasi dari para ahli berbagai asosiasi profesi yang berkaitan dengan makanan dan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Rekomendasi tersebut disebarluaskan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui konsumsi makanan. Namun, masyarakat juga sering bingung ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa jenis makanan yang sama dikonsumsi oleh individu yang berbeda menimbulkan efek yang berbeda pula.
Hal yang kurang disadari adalah walaupun secara genetik memiliki kesamaan hingga 99,9 persen, semua manusia masih menyisakan 0,1 persen perbedaan yang justru menjadi pembeda antarindividu. Dengan kata lain, bisa dipahami bahwa tidak ada dua individu yang semuanya sama persis sekalipun mereka saudara kembar. Dalam perjalanan usia tidak ada dua individu yang memiliki "sejarah" makan dan kegiatan yang sama persis. Demikian pula kondisi psikologis dan fisiologis tubuh manusia tidaklah stabil selama 24 jam.
Hal-hal inilah yang ditengarai sebagai penyebab kenapa penelitian menggunakan hewan coba ataupun manusia hasil- hasilnya sering saling kontradiksi. Lebih parah lagi kalau perbedaan hasil penelitian ini diatasi dengan saling menyalahkan antarpeneliti.
Hubungan antara konsumsi makanan dan beragamnnya respons pada berbagai individu dengan latar belakang genetik yang berbeda sudah lama diketahui, misalnya pada kasus galaktosemia dan phenylketonuria (PKU). Galaktosemia, pertama kali ditemukan tahun 1917 oleh F Goppart, adalah varian genetik di mana individu sejak lahir tidak memiliki kemampuan memetabolisme galaktosa (tidak memiliki aktivitas enzim galaktosa-1-phosphat uridyltranferase).
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumi makanan yang mengandung galaktosa akan terjadi akumulasi galaktosa dalam darahnya yang berimplikasi munculya berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pertumbuhan mental. PKU, ditemukan tahun 1934 oleh Asbjorn Folling, adalah varian genetik pada individu yang menyebabkan tidak adanya aktivitas enzim phenilalanin hidroksilase.
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumsi makanan yang mengandung phenilalanin akan terjadi akumulasi phenilalanin dalam darahnya yang bisa berakibat terjadinya kerusakan neurologis. Namun, adanya kedua varian tersebut sudah bisa diketahui sejak dini setelah lahir dan ditangani dengan mengelola makanannya agar rendah galaktosa atau rendah phenilalanin.
Dengan semakin majunya perkembangan ilmu gizi, biologi molekuler, genetika molekuler, patologi, toksikologi, fisiologi, dan bioinformatika telah membawa kemajuan pengetahuan manusia menuju dunia ilmu yang baru yang disebut Nutrigenomik. Nutrigenomik mempelajari interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dan pengaruhnya pada pola- pola ekspresi gen.
Dalam hal ini termasuk juga interaksi antara komponen bioaktif dari makanan dengan sitesis protein, degradasi protein, dan modifikasi protein yang keseluruhannya bermuara pada metabolisme sel. Munculnya ilmu baru ini dilandasi oleh beberapa fakta yang telah diketahui hingga saat terakhir ini.
Pertama, zat-zat kimia pada makanan berpengaruh pada gen-gen manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bisa mengganggu ekspresi gen.
Kedua, dalam kondisi tertentu atau pada individu tertentu, zat-zat bioaktif makanan bisa menjadi pemicu yang menyebabkan sakit. Ketiga, sejauh mana zat makanan berpengaruh menyehatkan atau menyebabkan sakit bagi individu tergantung pada kondisi genetik masing-masing. Keempat, konsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada pengetahuan kebutuhan gizi, status gizi, dan genotipe individu bisa diarahkan untuk mencegah, mengendalikan, atau bahkan menyembuhkan penyakit kronis.
DI atas sudah dijelaskan bahwa masing-masing kita sebagai individu memiliki perbedaan genetik dan pola tanggap terhadap zat-zat makanan. Sekarang dari sisi makanan itu sendiri ternyata juga sangat kompleks dan beragam kandungan zat-zat bioaktifnya. Pada berbagai penelitian secara klinis yang ditujukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan zat makanan tertentu (misalnya: lemak rendah vs tinggi, atau lemak jenuh vs tidak jenuh) sering menghasilkan efek yang berbeda-beda. Hal ini juga bisa disebabkan oleh komposisi makanan yang terdiri dari berbagai komponen minor (kadarnya rendah) yang macamnya sangat banyak.
Untuk mempengaruhi terjadinya perubahan pada tahap ekspresi gen ataupun status metabolisme sel, mungkin komponen minor inilah yang secara efektif berperan. Misalnya untuk menu yang disiapkan atau diolah dengan menambahkan minyak jagung, maka bukan hanya asam lemak tidak jenuh (85 persen) yang ada pada minyak jagung tersebut, namun terdapat juga asam lemak jenuh (13 persen).
Bukan hanya itu, di dalam minyak jagung tersebut juga masih ditemukan berpuluh-puluh macam senyawa lain, misalnya kelompok sterol, sterol asam lemak, tokoferol. Pada tokoferol sendiri bisa terdiri dari alfa, beta, gama, dan delta tokoferol. Demikian pula pada minyak nabati yang lain yang telah dimurnikan sekalipun masih mengandung senyawa- senyawa tersebut dalam jumlah yang sangat kecil (ppm).
HASIL penelitian dari banyak studi ada yang secara konsisten menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya penyakit kronis dan tingkat keparahannya. Meskipun demikian, secara jelas mekanisme hubungan keduanya belum bisa disimpulkan secara meyakinkan sebagai sebab-akibat. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh adanya zat-zat bioaktif lain yang macamnya dan kadarnya tidak bisa dijaga agar 100 persen selalu sama.
Zat bioaktif pada makanan bisa mempengaruhi ekspresi gen baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada tingkat sel, zat bioaktif ada makanan bisa (1) berperan sebagai ligan (penyambung) reseptor faktor transkripsi, (2) dimetabolisme melalui jalur metabolik primer atau sekunder, dan (3) mempengaruhi jalur pemrosesan sinyal untuk "komunikasi" di dalam atau di luar sel.
Bertambahnya pengetahuan baru di lingkup nutrigenomik selanjutnya akan berdampak pada makin tipisnya batasan antara makanan dan obat. Perbedaan definisi obat dan makanan yang sekarang ada akan mendapat tantangan baru dengan makin majunya nutrigenomik pada dekade mendatang.
Pada waktu lampau para ahli pangan dan gizi hanya bisa menduga bahwa komponen bioaktif pada makanan memiliki pengaruh terhadap proses-proses yang berlangsung di dalam sel. Sekarang mulai muncul bukti-bukti yang mengarah ke situ dan makin banyak terkumpul dari waktu ke waktu. Ini bukan berarti bahwa makanan di masa datang harus diregulasi seperti obat. Hanya saja, harus mulai disadari bahwa peranan komponen bioaktif pada makanan kesehatan dan kebugaran konsumen makin nyata.
LALU, bagaimanakah dampak munculnya nutrigenomik terhadap industri pangan ? Seperti halnya pemasaran produk-produk makanan fungsional yang mulai banyak beredar dan dikonsumsi masyarakat segmen tertentu, maka nutrigenomik akan menjadi dasar untuk membuka era baru industri makanan kesehatan di masa depan. Hanya segmen tertentu dari konsumen yang akan memiliki peluang untuk mencoba menggunakan produk-produk yang didasari oleh pengetahuan nutrigenomik. Pada tahap awalnya yang diperlukan konsumen adalah adanya layanan bagi mereka untuk mengetahui pola- pola genetik yang berbeda secara spesifik antarindividu.
Selanjutnya berkembang menuju tersedianya metode monitoring terhadap penanda biologis untuk mengetahui sejauh mana latar belakang genetik memberikan respons terhadap makanan. Pada saat yang bersamaan, industri makanan akan mulai mengembangkan, memproduksi, dan menghadirkan produk-produk baru dengan muatan nutrigenomik yang makin kuat.
Akhirnya masyarakat konsumen memerlukan layanan konsultasi atau konseling untuk memahami arti hasil uji latar belakang genetik dan hubungannya dengan pilihan makanan yang memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Bagi industri pengolah produk pangan jelas bahwa munculnya nutrigenomik tidak bisa lagi dihadapi dengan cara produksi dengan pola lama.
Mengingat demikian banyaknya komponen keahlian yang terlibat, industri perlu membangun atau memperkuat kemitraannya dengan berbagai partner bisnis, termasuk institusi penelitian yang relevan. Sekalipun nutrigenomik diawali di negara-negara maju, bagi Indonesia memiliki peluang yang tidak kalah besar untuk memajukan bidang ini.
***
Prof Dr Sri Raharjo Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada �
Bermain dengan Protein
Mungkin yang sering ada dibenak kita, telor mengandung protein. Tapi, sebenarnya, apakah itu protein? Berikut penjelasan dari Dr Arief B Witarto M Eng, Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika untuk Kedokteran, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, pada koran kompas.
Bermain dengan Protein
Arief B Witarto
Pemanfaatan protein untuk berbagai tujuan selain bahan pangan telah dipacu dengan perkembangan bioteknologi. Kemampuan kita sudah tidak terbatas pada produksi massalnya saja, tetapi juga merekayasa protein sekehendak hati. Hal ini mendorong penggunaan protein dalam berbagai bidang, seperti kedokteran, kosmetik, sampai pada militer, dan menjadikan industri protein sebagai sebuah bisnis besar.
DNA sebagai cetak biru kehidupan mengode pembuatan protein. Protein memiliki beragam fungsi, seperti antibodi dalam sistem kekebalan tubuh, enzim yang dapat mengatalis reaksi kimia sampai 1.017 kali lebih cepat, pengubah sinyal seperti protein rhodopsin dalam sel retina mata yang mengubah foton cahaya menjadi sinyal kimia sehingga pembaca dapat menyimak tulisan ini, hormon, dan sebagainya.
Sifat-sifat unggul protein ini telah mendorong aplikasi protein dalam berbagai bidang yang menjadi mungkin berkat perkembangan teknologi sebagai berikut.
Pada tahun 1973, Herbert Boyer dan Stanley Cohen dari Amerika Serikat (AS) berhasil mengembangkan teknologi DNA rekombinan yang menandai revolusi bioteknologi.
Dengan teknik ini, protein yang diinginkan dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan menggunakan bakteri yang telah direkayasa secara genetik.
Dahulu, untuk mendapatkan insulin yang diperlukan oleh penderita diabetes mellitus (DM), setiap hari pabrik-pabrik pembuat insulin memerlukan 11 ton organ pankreas yang berasal dari 100.000 lebih hewan ternak seperti sapi dan babi. Sekarang, dengan teknologi DNA rekombinan, hanya dari 1 gram bakteri, bisa diperoleh sekurangnya 10 mg protein murni. Insulin adalah protein pertama yang secara komersial diproduksi dengan teknik ini oleh perusahaan bioteknologi pertama di dunia, Genentech.
Sebagaimana layaknya seorang insinyur sipil dan arsitek merancang bangunan, untuk mempelajari kemudian merekayasa protein diperlukan gambar detail molekul tersebut sampai pada tingkat atom.
Teknik kristalografi sinar X sejak tahun 1910-an telah dikembangkan para ahli fisika dan kimia untuk menjelaskan struktur senyawa kimia, namun belum dapat dipakai untuk protein karena ukurannya yang bisa 1.000 kali lebih besar.
Dengan ketekunan yang tinggi selama 20 tahun, Max Perutz dari Inggris untuk pertama kalinya pada tahun 1957 berhasil menggunakan teknik ini untuk melihat struktur protein hemoglobin yang tersusun dari 10.000 atom lebih.
Berkat jasanya, Max Perutz bersama John Kendrew yang menjelaskan struktur protein myoglobin berukuran seperempat lebih kecil menerima Hadiah Nobel Kimia tahun 1962.
Saat ini, struktur protein berukuran jutaan atom dapat dijelaskan menggunakan teknik ini hanya dalam beberapa bulan. Bila teknik kristalografi sinar X digunakan untuk melihat struktur protein dalam bentuk padat/kristal, telah pula dikembangkan teknik nuclear magnetic resonance (NMR) untuk melihat struktur atom protein dalam cairan. Pengembang teknik ini, Kurt Wuthrich dari Jerman, mendapatkan Hadiah Nobel Kimia tahun 2002.
Setelah barang ada, gambar jelas, yang diperlukan selanjutnya tinggal alat. Praktik mengubah protein sudah dikenal sejak tahun 1960-an, yaitu dengan mereaksikan zat kimia tertentu yang dapat menyebabkan mutasi pada mikroba penghasil protein yang akan diteliti atau langsung kepada protein yang diisolasi.
Namun, seperti diakui Taiji Imoto, editor senior jurnal Protein Engineering, untuk mendapatkan mutasi satu asam amino pada posisi tertentu bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untunglah, Michael Smith dari Kanada pada tahun 1978 berhasil mengembangkan metode yang disebut site-directed mutagenesis untuk melakukan mutasi asam amino protein pada posisi yang diinginkan. Mutasi ini dilakukan terhadap DNA pengode protein tersebut dan dapat dituntaskan hanya dalam waktu sepekan. Atas jasanya ini, Smith menerima Hadiah Nobel Kimia tahun 1993.
Dengan berkembangnya tiga teknologi kunci di atas, lahirlah bidang baru dalam bioteknologi, yaitu rekayasa protein. Istilah ini pertama kali dicetuskan Kevin Ulmer dari perusahaan Genex di AS tahun 1983 dalam jurnal Science.
Rekayasa protein
Rekayasa protein telah memberikan peluang kepada manusia untuk bermain dengan protein dengan lebih leluasa dan menyenangkan, seperti mengubah asam amino protein, menyambung rantai polipeptida protein, membuat protein yang hanya mengandung asam amino esensial untuk nutrisi, merancang protein yang dapat menyaring molekul kimia enantiomer, dan sebagainya. Penelitian rekayasa protein mengalami ledakan sejak tahun 1990-an.
Saat ini, setiap tahun tak kurang dari 5.000 paper diterbitkan untuk penelitian ini. Berbagai jurnal yang didedikasikan untuk penelitian rekayasa protein pun banyak diterbitkan, seperti jurnal Protein Engineering, Proteins, dan Protein Science.
Lembaga-lembaga penelitian yang memberikan perhatian besar terhadap riset rekayasa protein juga banyak didirikan, seperti Protein Engineering Research Institute di Jepang, Cambridge Center for Protein Engineering di Inggris, Center for Applied Protein Engineering di Jerman, Center for Protein Structure and Design di Kanada, serta Center for Advanced Research in Biotechnology di AS. Tahun 1991, dibentuklah International Network of Protein Engineering Center (INPEC) oleh lembaga-lembaga itu.
Dengan rekayasa protein, peningkatan sifat protein yang paling mendapat perhatian adalah stabilitas suhu. Sebab, untuk aplikasi protein, sejak tahap produksi, penyimpanan, sampai penggunaan, semuanya dipengaruhi suhu.
Grup peneliti dari Belanda dan Jerman dalam paper-nya berjudul Engineering an Enzyme to Resist Boiling pada tahun 1998 berhasil merekayasa enzim protease lebih stabil terhadap suhu, 340 kali lebih tinggi daripada aslinya. Pada tahun yang sama, para peneliti dari AS berhasil meningkatkan kestabilan suhu protein Gb1 sampai 100>sprscriptres<>res< C.
Peringkat berikutnya adalah perubahan spesifikasi substrat. Hubungan protein dengan substrat sering digambarkan sebagai kunci (substrat) dan lubang kunci (protein), di mana hanya kunci yang cocok dengan lubang kunci saja yang dapat membukanya.
Para peneliti dari perusahaan Gilead Sciences di AS, yang bekerja dengan protein-protein yang terlibat dalam pembekuan darah, pada tahun 1995 dengan melakukan mutasi pada satu asam amino enzim thrombin dapat mengubah spesifikasi substrat protein ini dari fibrinogen kepada protein C, sehingga menjadikan enzim thrombin hasil rekayasa itu sebagai kandidat obat anticoagulant.
Sementara itu, kelompok peneliti dari Perancis berhasil mengubah secara total reaksi kimia yang dikatalis enzim cyclophilin dari isomerisasi menjadi pemotong polipeptida.
Dengan kemampuan-kemampuan di atas, permainan protein sudah menjadi bisnis raksasa. Tahun 2000, perusahaan Amgen di AS berhasil meraup penghasilan 60 miliar dollar AS dan menduduki peringkat pertama di dunia dengan produksi protein-protein untuk kedokteran, seperti erythropoietin (EPO), interferon, dan sebagainya. Genentech berada pada posisi kedua dengan penghasilan 30 dollar miliar AS. Memang, sebagian besar, aplikasi protein hasil rekayasa protein digunakan industri farmasi/kedokteran.
Contohnya, EPO yang digunakan untuk pengobatan anemia, versi mutasinya dapat memiliki umur paruh tiga kali lebih panjang, alias khasiat lebih lama. Menurut perhitungan Merril Lynch, EPO jenis ini, yang diproduksi oleh Amgen, akan meraup penghasilan 1,4 miliar dollar AS.
Di Indonesia, aplikasi protein dalam produk yang digunakan sehari-hari, seperti sabun cuci, sampo, dan pasta gigi, sudah makin populer.
Selain menggiurkan dengan keuntungan besar, permainan protein juga dapat mendebarkan dengan aplikasinya untuk militer. Satu dari jenis senjata biologis yang mematikan, racun botulinum dari bakteri Clostridium botulinium, adalah protein. Zat-zat racun dalam bakteri Bacillus anthracis juga berbentuk protein. Dari jenis senjata kimia, gas kimia misalnya Sarin, VX, OP, bekerja dengan mematikan kerja enzim-enzim dalam sistem saraf seperti enzim acetylcholinesterase.
Pada tahun 1995, para peneliti dari lembaga penelitian medis Angkatan Darat AS berhasil memutasi enzim ini sehingga sama sekali kebal terhadap gas-gas saraf beracun itu. Di LIPI, rekayasa protein digunakan untuk mengembangkan enzim-enzim sebagai alat diagnosa penyakit seperti DM dan kanker.
Dr Arief B Witarto M Eng Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika untuk Kedokteran, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI
Bermain dengan Protein
Arief B Witarto
Pemanfaatan protein untuk berbagai tujuan selain bahan pangan telah dipacu dengan perkembangan bioteknologi. Kemampuan kita sudah tidak terbatas pada produksi massalnya saja, tetapi juga merekayasa protein sekehendak hati. Hal ini mendorong penggunaan protein dalam berbagai bidang, seperti kedokteran, kosmetik, sampai pada militer, dan menjadikan industri protein sebagai sebuah bisnis besar.
DNA sebagai cetak biru kehidupan mengode pembuatan protein. Protein memiliki beragam fungsi, seperti antibodi dalam sistem kekebalan tubuh, enzim yang dapat mengatalis reaksi kimia sampai 1.017 kali lebih cepat, pengubah sinyal seperti protein rhodopsin dalam sel retina mata yang mengubah foton cahaya menjadi sinyal kimia sehingga pembaca dapat menyimak tulisan ini, hormon, dan sebagainya.
Sifat-sifat unggul protein ini telah mendorong aplikasi protein dalam berbagai bidang yang menjadi mungkin berkat perkembangan teknologi sebagai berikut.
Pada tahun 1973, Herbert Boyer dan Stanley Cohen dari Amerika Serikat (AS) berhasil mengembangkan teknologi DNA rekombinan yang menandai revolusi bioteknologi.
Dengan teknik ini, protein yang diinginkan dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan menggunakan bakteri yang telah direkayasa secara genetik.
Dahulu, untuk mendapatkan insulin yang diperlukan oleh penderita diabetes mellitus (DM), setiap hari pabrik-pabrik pembuat insulin memerlukan 11 ton organ pankreas yang berasal dari 100.000 lebih hewan ternak seperti sapi dan babi. Sekarang, dengan teknologi DNA rekombinan, hanya dari 1 gram bakteri, bisa diperoleh sekurangnya 10 mg protein murni. Insulin adalah protein pertama yang secara komersial diproduksi dengan teknik ini oleh perusahaan bioteknologi pertama di dunia, Genentech.
Sebagaimana layaknya seorang insinyur sipil dan arsitek merancang bangunan, untuk mempelajari kemudian merekayasa protein diperlukan gambar detail molekul tersebut sampai pada tingkat atom.
Teknik kristalografi sinar X sejak tahun 1910-an telah dikembangkan para ahli fisika dan kimia untuk menjelaskan struktur senyawa kimia, namun belum dapat dipakai untuk protein karena ukurannya yang bisa 1.000 kali lebih besar.
Dengan ketekunan yang tinggi selama 20 tahun, Max Perutz dari Inggris untuk pertama kalinya pada tahun 1957 berhasil menggunakan teknik ini untuk melihat struktur protein hemoglobin yang tersusun dari 10.000 atom lebih.
Berkat jasanya, Max Perutz bersama John Kendrew yang menjelaskan struktur protein myoglobin berukuran seperempat lebih kecil menerima Hadiah Nobel Kimia tahun 1962.
Saat ini, struktur protein berukuran jutaan atom dapat dijelaskan menggunakan teknik ini hanya dalam beberapa bulan. Bila teknik kristalografi sinar X digunakan untuk melihat struktur protein dalam bentuk padat/kristal, telah pula dikembangkan teknik nuclear magnetic resonance (NMR) untuk melihat struktur atom protein dalam cairan. Pengembang teknik ini, Kurt Wuthrich dari Jerman, mendapatkan Hadiah Nobel Kimia tahun 2002.
Setelah barang ada, gambar jelas, yang diperlukan selanjutnya tinggal alat. Praktik mengubah protein sudah dikenal sejak tahun 1960-an, yaitu dengan mereaksikan zat kimia tertentu yang dapat menyebabkan mutasi pada mikroba penghasil protein yang akan diteliti atau langsung kepada protein yang diisolasi.
Namun, seperti diakui Taiji Imoto, editor senior jurnal Protein Engineering, untuk mendapatkan mutasi satu asam amino pada posisi tertentu bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untunglah, Michael Smith dari Kanada pada tahun 1978 berhasil mengembangkan metode yang disebut site-directed mutagenesis untuk melakukan mutasi asam amino protein pada posisi yang diinginkan. Mutasi ini dilakukan terhadap DNA pengode protein tersebut dan dapat dituntaskan hanya dalam waktu sepekan. Atas jasanya ini, Smith menerima Hadiah Nobel Kimia tahun 1993.
Dengan berkembangnya tiga teknologi kunci di atas, lahirlah bidang baru dalam bioteknologi, yaitu rekayasa protein. Istilah ini pertama kali dicetuskan Kevin Ulmer dari perusahaan Genex di AS tahun 1983 dalam jurnal Science.
Rekayasa protein
Rekayasa protein telah memberikan peluang kepada manusia untuk bermain dengan protein dengan lebih leluasa dan menyenangkan, seperti mengubah asam amino protein, menyambung rantai polipeptida protein, membuat protein yang hanya mengandung asam amino esensial untuk nutrisi, merancang protein yang dapat menyaring molekul kimia enantiomer, dan sebagainya. Penelitian rekayasa protein mengalami ledakan sejak tahun 1990-an.
Saat ini, setiap tahun tak kurang dari 5.000 paper diterbitkan untuk penelitian ini. Berbagai jurnal yang didedikasikan untuk penelitian rekayasa protein pun banyak diterbitkan, seperti jurnal Protein Engineering, Proteins, dan Protein Science.
Lembaga-lembaga penelitian yang memberikan perhatian besar terhadap riset rekayasa protein juga banyak didirikan, seperti Protein Engineering Research Institute di Jepang, Cambridge Center for Protein Engineering di Inggris, Center for Applied Protein Engineering di Jerman, Center for Protein Structure and Design di Kanada, serta Center for Advanced Research in Biotechnology di AS. Tahun 1991, dibentuklah International Network of Protein Engineering Center (INPEC) oleh lembaga-lembaga itu.
Dengan rekayasa protein, peningkatan sifat protein yang paling mendapat perhatian adalah stabilitas suhu. Sebab, untuk aplikasi protein, sejak tahap produksi, penyimpanan, sampai penggunaan, semuanya dipengaruhi suhu.
Grup peneliti dari Belanda dan Jerman dalam paper-nya berjudul Engineering an Enzyme to Resist Boiling pada tahun 1998 berhasil merekayasa enzim protease lebih stabil terhadap suhu, 340 kali lebih tinggi daripada aslinya. Pada tahun yang sama, para peneliti dari AS berhasil meningkatkan kestabilan suhu protein Gb1 sampai 100>sprscriptres<>res< C.
Peringkat berikutnya adalah perubahan spesifikasi substrat. Hubungan protein dengan substrat sering digambarkan sebagai kunci (substrat) dan lubang kunci (protein), di mana hanya kunci yang cocok dengan lubang kunci saja yang dapat membukanya.
Para peneliti dari perusahaan Gilead Sciences di AS, yang bekerja dengan protein-protein yang terlibat dalam pembekuan darah, pada tahun 1995 dengan melakukan mutasi pada satu asam amino enzim thrombin dapat mengubah spesifikasi substrat protein ini dari fibrinogen kepada protein C, sehingga menjadikan enzim thrombin hasil rekayasa itu sebagai kandidat obat anticoagulant.
Sementara itu, kelompok peneliti dari Perancis berhasil mengubah secara total reaksi kimia yang dikatalis enzim cyclophilin dari isomerisasi menjadi pemotong polipeptida.
Dengan kemampuan-kemampuan di atas, permainan protein sudah menjadi bisnis raksasa. Tahun 2000, perusahaan Amgen di AS berhasil meraup penghasilan 60 miliar dollar AS dan menduduki peringkat pertama di dunia dengan produksi protein-protein untuk kedokteran, seperti erythropoietin (EPO), interferon, dan sebagainya. Genentech berada pada posisi kedua dengan penghasilan 30 dollar miliar AS. Memang, sebagian besar, aplikasi protein hasil rekayasa protein digunakan industri farmasi/kedokteran.
Contohnya, EPO yang digunakan untuk pengobatan anemia, versi mutasinya dapat memiliki umur paruh tiga kali lebih panjang, alias khasiat lebih lama. Menurut perhitungan Merril Lynch, EPO jenis ini, yang diproduksi oleh Amgen, akan meraup penghasilan 1,4 miliar dollar AS.
Di Indonesia, aplikasi protein dalam produk yang digunakan sehari-hari, seperti sabun cuci, sampo, dan pasta gigi, sudah makin populer.
Selain menggiurkan dengan keuntungan besar, permainan protein juga dapat mendebarkan dengan aplikasinya untuk militer. Satu dari jenis senjata biologis yang mematikan, racun botulinum dari bakteri Clostridium botulinium, adalah protein. Zat-zat racun dalam bakteri Bacillus anthracis juga berbentuk protein. Dari jenis senjata kimia, gas kimia misalnya Sarin, VX, OP, bekerja dengan mematikan kerja enzim-enzim dalam sistem saraf seperti enzim acetylcholinesterase.
Pada tahun 1995, para peneliti dari lembaga penelitian medis Angkatan Darat AS berhasil memutasi enzim ini sehingga sama sekali kebal terhadap gas-gas saraf beracun itu. Di LIPI, rekayasa protein digunakan untuk mengembangkan enzim-enzim sebagai alat diagnosa penyakit seperti DM dan kanker.
Dr Arief B Witarto M Eng Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika untuk Kedokteran, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI
Subscribe to:
Posts (Atom)