Ternyata, mengurus blog yang lebih profesional, susahnya minta ampyuun...
Bolanova.com adalah blog yang saya kelola bersama teman SMA, Andy. Disini, saya mengelola blog bola dengan sungguh-sungguh. Tidak main-main. Serius. Percaya deh. Walaupun dalam menulis, saya banyak berkelakar ga karuannya. Mungkin efek dari keseringan nulis topik ga penting disini.
Bolanova itu bisa dibilang 50% lebih seperti koran. Karena tiap hari harus di update. Dan untuk mengupdate tiap hari, bukan perkara mudah. Kalau memiliki pengetahuan soal bola yang masih dangkal, otomatis kadar kualitas tulisannya bisa dibawah standar. Kecuali tulisannya hanyalah berupa lansiran dari berita/artikel orang luar negeri. Nah, kalau tiap hari di update tapi kualitasnya buruk, percuma saja toh.
Belum lagi kalau tulisan kita dibilang ga bermutu. Padahal nulisnya sudah makan waktu 1-2 jam. Waduh... Otomatis dongkol dong. Tapi, mau ga mau, kondisi seperti itu harus dianggap pembelajaran. Dicaci lagi, anggap lagi pembelajaran. Dimaki lagi, anggap lagi pembelajaran. Pokoknya tidak ada habisnya untuk selalu menganggap pembelajaran.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin bilang kalau ternyata, menjadi pekerja media alias wartawan atau penulis itu memang tidak mudah!
Selama ini, saya beranggapan, jadi pekerja IT bisa dibilang pekerjaan yang sulit. Kenapa? Ilmunya cukup susah. Kita harus mempelajari bahasa pemrograman lalu mengimplementasikannya supaya menjadi sebuah produk/software. Sedangkan wartawan/penulis majalah, cukup banyak baca, lalu, tinggal dimuntahkan di depan komputer hingga beribu-ribu teks. Beres. Tapi, apakah hanya itu saja? Ternyata tidak. Kalau sekedar memuntahkan dan menjadi sebuah artikel, semua orang bisa. Tapi kalau memuntahkan informasi yang kita punya, lalu di olah supaya menjadi tulisan yang elegan dan enak dikonsumsi, semua orang belum tentu bisa. Kalau ada bakat, mungkin belajar menulis 2-3 minggu, selesai perkara. Tapi kalau tidak punya bakat, otomatis, pameo 10-90 harus diterapkan. 10 bakat dan 90 kerja keras!
Friday, March 14, 2008
Thursday, March 13, 2008
S1? Jadi Guru? Ga Banget Deh... (Bagian 3)
Bagaimana menjadi guru yang baik dan benar?
Belajar terus. Jangan pernah berhenti.
Belajar dari murid itu ngga dosa. Murid bisa lebih pinter, lho :)
Apa pengalaman paling mengesankan jadi guru?
Dikritik guru lain gara-gara waktu di jam beliau, anak-anak
mengerjakan tugas dariku.
*padahal... waktu jam pelajaranku atau jam lain, anak-anak mengerjakan
tugas dia atau belajar pelajaran beliau hihihi...
Mmmm... di'goda'in di kelas.
M (murid): "Miss, kalo angkatan 2002, berarti seangkatan dong sama
Nicholas Saputra?"
A (aku): *bengong, cuma alis berkerut*
M: "Miss angkatan 2002, kan?"
A: "Ngga. Kapan saya bilang begitu?"
T (teman-teman): *ngakak* "Sok tau looooooooo"
M: "Kirain. Abis miss keliatan kaya angkatan 2002, sih"
T: *ngakak lagi* "Huuuuuuuuuuuu"
A: "Halah halah. Dear, don't flirt with me"
Atau... "Miss, kok miss baik banget, sih?", waktu aku -yang saat itu
mulai terkikis kesabarannya- masih berusaha supaya anak-anak mau
denger & berusaha ngerti materi.
Atau... disangka temennya orangtua murid, waktu lagi duduk-duduk
bareng ortu murid di bangku.
Lalu disapa sama satu murid, "Mari, tante" dan si orangtua murid
marah, "Heh, ini guru kamu tauk!" hehehe... *kalem, bu... saya guru
baru dan ngga ngajar kelas dia, wajar aja ngga tau (eh tapi kan daku
pake seragam, yak?)
Ada aja, lah. Selalu ada cerita setiap hari :)
"Saya seorang S1, masak jadi guru... ga banget deh.." -> bagaimana kalau ada orang yang ngomong gitu?
Laaahh... Guru SMA kan minimal S1. Nyadar diri, atuh. Cuma punya persyaratan minimal kok protes :D
Maunya malah kalau bisa nanti guru yang S1 sekolah
Bukan guru SMA? Ya kembali ke pribadi. S2 ngajar SD juga gak protes, tuh. Iya, ada. Yang protes malah orang lain :)
Kalau memang maunya begitu, ya jalani aja. Gak usah mikirin pendapat orang lain :)
Kalau ngga mau, ya sudah jangan cela yang pengen :)
Guru itu profesi yang harus sepenuh hati. Jadi kalau setengah-setengah, kasian murid lha ya.
Masa buat anak kok coba-coba hehehe...
Ini satu yang harus dipikirkan: kalau profesi guru selalu jadi pilihan kedua atau seterusnya, maka kita akan diajar oleh orang-orang yang *mungkin* tidak sepenuh hati ingin dan kemampuannya tidak setinggi
mereka yang memilih *apapun itu* sebagai pilihan pertama.
Betul, kemampuan bisa dipoles. Guru SMP yang masih mendampingi saya sampai sekarang juga tidak memilih guru sebagai pilihan pertama. Guru adalah 'pengisi waktu senggang', kata beliau. Tapi toh beliau termasuk
wali kelas favorit yang dikenal mampu menangani 'anak-anak bandel', termasuk saya yang dimasukkan ke asuhannya hehehe...
Namun berapa banyak yang begini? Pilihan pertama tidakkah punya kemungkinan lebih besar untuk lebih ditekuni, lebih berhasil, dan lebih sreg di hati?
Kita butuh banyak orang yang MAMPU dalam keilmuan DAN memilih menjadi guru, ketimbang terpaksa menjadi guru (daripada ngga kerja, misalnya).
--
Thanks Lita untuk interviewnya ^_^
(Blog Lita -> http://lita.inirumahku.com )
Belajar terus. Jangan pernah berhenti.
Belajar dari murid itu ngga dosa. Murid bisa lebih pinter, lho :)
Apa pengalaman paling mengesankan jadi guru?
Dikritik guru lain gara-gara waktu di jam beliau, anak-anak
mengerjakan tugas dariku.
*padahal... waktu jam pelajaranku atau jam lain, anak-anak mengerjakan
tugas dia atau belajar pelajaran beliau hihihi...
Mmmm... di'goda'in di kelas.
M (murid): "Miss, kalo angkatan 2002, berarti seangkatan dong sama
Nicholas Saputra?"
A (aku): *bengong, cuma alis berkerut*
M: "Miss angkatan 2002, kan?"
A: "Ngga. Kapan saya bilang begitu?"
T (teman-teman): *ngakak* "Sok tau looooooooo"
M: "Kirain. Abis miss keliatan kaya angkatan 2002, sih"
T: *ngakak lagi* "Huuuuuuuuuuuu"
A: "Halah halah. Dear, don't flirt with me"
Atau... "Miss, kok miss baik banget, sih?", waktu aku -yang saat itu
mulai terkikis kesabarannya- masih berusaha supaya anak-anak mau
denger & berusaha ngerti materi.
Atau... disangka temennya orangtua murid, waktu lagi duduk-duduk
bareng ortu murid di bangku.
Lalu disapa sama satu murid, "Mari, tante" dan si orangtua murid
marah, "Heh, ini guru kamu tauk!" hehehe... *kalem, bu... saya guru
baru dan ngga ngajar kelas dia, wajar aja ngga tau (eh tapi kan daku
pake seragam, yak?)
Ada aja, lah. Selalu ada cerita setiap hari :)
"Saya seorang S1, masak jadi guru... ga banget deh.." -> bagaimana kalau ada orang yang ngomong gitu?
Laaahh... Guru SMA kan minimal S1. Nyadar diri, atuh. Cuma punya persyaratan minimal kok protes :D
Maunya malah kalau bisa nanti guru yang S1 sekolah
Bukan guru SMA? Ya kembali ke pribadi. S2 ngajar SD juga gak protes, tuh. Iya, ada. Yang protes malah orang lain :)
Kalau memang maunya begitu, ya jalani aja. Gak usah mikirin pendapat orang lain :)
Kalau ngga mau, ya sudah jangan cela yang pengen :)
Guru itu profesi yang harus sepenuh hati. Jadi kalau setengah-setengah, kasian murid lha ya.
Masa buat anak kok coba-coba hehehe...
Ini satu yang harus dipikirkan: kalau profesi guru selalu jadi pilihan kedua atau seterusnya, maka kita akan diajar oleh orang-orang yang *mungkin* tidak sepenuh hati ingin dan kemampuannya tidak setinggi
mereka yang memilih *apapun itu* sebagai pilihan pertama.
Betul, kemampuan bisa dipoles. Guru SMP yang masih mendampingi saya sampai sekarang juga tidak memilih guru sebagai pilihan pertama. Guru adalah 'pengisi waktu senggang', kata beliau. Tapi toh beliau termasuk
wali kelas favorit yang dikenal mampu menangani 'anak-anak bandel', termasuk saya yang dimasukkan ke asuhannya hehehe...
Namun berapa banyak yang begini? Pilihan pertama tidakkah punya kemungkinan lebih besar untuk lebih ditekuni, lebih berhasil, dan lebih sreg di hati?
Kita butuh banyak orang yang MAMPU dalam keilmuan DAN memilih menjadi guru, ketimbang terpaksa menjadi guru (daripada ngga kerja, misalnya).
--
Thanks Lita untuk interviewnya ^_^
(Blog Lita -> http://lita.inirumahku.com )
Wednesday, March 12, 2008
Suka Duka Jadi Guru (Bagian 2)
(Sambungan dari tulisan ini)
Apa suka duka jadi guru?
Dicuekin.
Jamak, sebagai guru baru. Anak ngga kenal, "Siapa elu".
Kalau murid sekelas sedang 'malas berjamaah', wah udah deh.
Males-malesan semua. Ngga ada respon kalo ditanya, ngga ada yang nanya
kalo ditawari untuk bertanya.
Dibandingkan.
"Aduuhhh guru yang dulu lebih enak, deh" *ngga tentang ke aku, sih,
ini cerita beberapa teman guru*
Capek.
Hahaha... kerjaan mana yang ngga capek? Semua juga ada capeknya kok, ya.
Hanya, bagi mereka yang berpendapat bahwa menjadi guru itu santai, well... think 10 times. Again.
Kalau hanya melihat jam mengajar di kelas, tampaknya memang enak.
Datang jam 10, nanti jam 1 sudah pulang.
Yang tidak kelihatan: menyiapkan materi/bahan ajar di rumah, menyiapkan soal & jawaban, mencari referensi yang enak disimak
setingkat kemampuan murid, belajar, belajar, belajar.
Ilmu kan berkembang terus, ya. Jadi harus update sendiri. Pegangan mengajar tidak harus diktat.
Lagipula, banyak yang sudah lupa. SMA kan bertahun-tahun yang lalu.
Lha wong apa yang baru dibaca seminggu lalu saja bisa lupa, apalagi yang sudah lama.
Mengoreksi semua PR, tugas, kuis, dan ulangan itu. Pilihan ganda memang memudahkan, tapi kurang mendidik anak untuk berpikir luas dan kreatif. Sedangkan isian jelas menyita waktu dan energi untuk yang
mengoreksi.
Sukanya.......
Seneng deh kalo lihat anak-anak ngerti & paham materi :)
Seneng lihat anak-anak kalau sedang antusias, sampe minta dikasi soal untuk latihan hehehe... "Miss, aku juga mau, dong!", "Miss, minta soal yang lain lagi, dong!", "Miss, buat aku mana?" sampe rebutan spidol untuk ngerjain di papan tulis :D
Seneng kalo banyak ditanya, walau ngga selalu siap dengan jawaban yang memuaskan :) *biasanya aku jadikan PR, yang kujawab di pertemuan selanjutnya*
Seneng lihat anak seneng dapet nilai bagus.
Seneng lihat jawaban/respon cerdas anak, yang jawabannya ngga ada di textbook.
Seneng kalau disapa di lorong, di luar kelas, atau ketemu di luar
sekolah. "Hello, miss Lita"
Seneng punya kesempatan besar untuk belajar. Punya buku bagus dan 'keren' tapi ngga mengeluarkan biaya dari kantong sendiri hehe...
Seneng punya temen-temen guru yang klop dan ngga keberatan sharing tips mengajar.
Seneng ketemu temen baru yang enak banget diajak diskusi. Seringkali seide dan seumur, tambah asik :)
Seneng kok kalau payday tiba hehehe...
Seneng mejeng di buku tahunan murid hahaha.... *narsis*
Apa suka duka jadi guru?
Dicuekin.
Jamak, sebagai guru baru. Anak ngga kenal, "Siapa elu".
Kalau murid sekelas sedang 'malas berjamaah', wah udah deh.
Males-malesan semua. Ngga ada respon kalo ditanya, ngga ada yang nanya
kalo ditawari untuk bertanya.
Dibandingkan.
"Aduuhhh guru yang dulu lebih enak, deh" *ngga tentang ke aku, sih,
ini cerita beberapa teman guru*
Capek.
Hahaha... kerjaan mana yang ngga capek? Semua juga ada capeknya kok, ya.
Hanya, bagi mereka yang berpendapat bahwa menjadi guru itu santai, well... think 10 times. Again.
Kalau hanya melihat jam mengajar di kelas, tampaknya memang enak.
Datang jam 10, nanti jam 1 sudah pulang.
Yang tidak kelihatan: menyiapkan materi/bahan ajar di rumah, menyiapkan soal & jawaban, mencari referensi yang enak disimak
setingkat kemampuan murid, belajar, belajar, belajar.
Ilmu kan berkembang terus, ya. Jadi harus update sendiri. Pegangan mengajar tidak harus diktat.
Lagipula, banyak yang sudah lupa. SMA kan bertahun-tahun yang lalu.
Lha wong apa yang baru dibaca seminggu lalu saja bisa lupa, apalagi yang sudah lama.
Mengoreksi semua PR, tugas, kuis, dan ulangan itu. Pilihan ganda memang memudahkan, tapi kurang mendidik anak untuk berpikir luas dan kreatif. Sedangkan isian jelas menyita waktu dan energi untuk yang
mengoreksi.
Sukanya.......
Seneng deh kalo lihat anak-anak ngerti & paham materi :)
Seneng lihat anak-anak kalau sedang antusias, sampe minta dikasi soal untuk latihan hehehe... "Miss, aku juga mau, dong!", "Miss, minta soal yang lain lagi, dong!", "Miss, buat aku mana?" sampe rebutan spidol untuk ngerjain di papan tulis :D
Seneng kalo banyak ditanya, walau ngga selalu siap dengan jawaban yang memuaskan :) *biasanya aku jadikan PR, yang kujawab di pertemuan selanjutnya*
Seneng lihat anak seneng dapet nilai bagus.
Seneng lihat jawaban/respon cerdas anak, yang jawabannya ngga ada di textbook.
Seneng kalau disapa di lorong, di luar kelas, atau ketemu di luar
sekolah. "Hello, miss Lita"
Seneng punya kesempatan besar untuk belajar. Punya buku bagus dan 'keren' tapi ngga mengeluarkan biaya dari kantong sendiri hehe...
Seneng punya temen-temen guru yang klop dan ngga keberatan sharing tips mengajar.
Seneng ketemu temen baru yang enak banget diajak diskusi. Seringkali seide dan seumur, tambah asik :)
Seneng kok kalau payday tiba hehehe...
Seneng mejeng di buku tahunan murid hahaha.... *narsis*
Si Adiba alias Raflesia Ituh
Gatot S. menulis:
Saya mau cerita tentang kebingungan saya, beberapa waktu lalu saya mengadakan acara pesta dg mengontak pihak jasa sarana pesta yaitu ALAMANDA, tp gambar pada acara tsb kok ada di iklan yg dipasang sodara Adiba di situs id.88db (gambar tenda dekorasi yg ada pohon natalnya), disitu ada gambar acara saya, saya heran..itu kan acaranya Alamanda (saya sendiri yg mengontak pihak Alamanda) kok yg mengiklankan sodara Adiba, saya tahu ada persaingan di bidang ini tp kalo caranya seperti itu saya rasa itu tidak fair dan memalukan, anehnya lg nama Adiba dan no tlpnya ada di iklan2 jasa sarana pesta (dg nama Raflesia). berarti Raflesia dan adiba adalah org yg sama yg mengiklankan gambar tsb, memalukan! bersainglah secara jujur dan fair, toh masing2 dr kita kan mencari pasar untuk dapur masing2 tp hrs dg cara yg gentle dong. terima kasih.
Via Komentar.
- - -
Ada apa dengan blog saya? Kenapa belakangan ini blog saya jadi seperti kotak komplain di dunia maya? Apakah karena blog ini terlalu ngetop di Search Engine sehingga orang-orang jadi mudah untuk memasukan pesan/kritikan terhadap objek tertentu yang terkait dengan tulisan-tulisan saya?
"Eh, dah dikasih komentar, masih berisik. Seneng dong harusnya lo... Blog elo tuh jarang-jarang dikomentarin tau..." Iblis berbicara keras disamping kiri saya.
"He?" Saya bingung.
"Bukan begitu, pesan-pesan yang disampaikan itu sebetulnya menunjukan bahwa kamu adalah malaikat di dunia maya. Maka, bantulah mereka." Malaikat berbisik lembut disamping kanan saya.
"He???" Saya tambah bingung.
Ok deh... Kalau gitu, saya akan membantu si pak Gatot sebisa saya. Apa yang bisa saya bantu? Mungkin hanya ini:
Apa yang dilakukan oleh si Adiba alias Raflesia adalah sah-sah saja. Namanya juga usaha. Secara hukum, belum ada peraturannya untuk mencomot gambar/image orang lain. Paling banter, Pak Gatot bisa hubungi si Adiba alias Raflesia dan tegur bahwa dia telah mencuri gambar acara anda.
Katakan bahwa gambar acara anda tidak boleh untuk dipampang di layanan gratis id.88db.com secara sembarangan.
Kalau tidak dicopot dalam jangka waktu sekian, anda bisa melaporkan pengelola id.88db.com untuk memblokir account si Adiba alias Raflesia tersebut.
Tapi kalau pihak id.88db.com tidak mau membantu, ya sudah... Anggap saja anda tidak pernah lihat iklan Adiba alias Raflesia di situs id.88db.com.
***
Note: maaf, judulnya ngikut-ngikut blogger ngetop ituh ^_^. Sejujurnya, enak juga bikin judul begitu... Singkat dan passs.
Saya mau cerita tentang kebingungan saya, beberapa waktu lalu saya mengadakan acara pesta dg mengontak pihak jasa sarana pesta yaitu ALAMANDA, tp gambar pada acara tsb kok ada di iklan yg dipasang sodara Adiba di situs id.88db (gambar tenda dekorasi yg ada pohon natalnya), disitu ada gambar acara saya, saya heran..itu kan acaranya Alamanda (saya sendiri yg mengontak pihak Alamanda) kok yg mengiklankan sodara Adiba, saya tahu ada persaingan di bidang ini tp kalo caranya seperti itu saya rasa itu tidak fair dan memalukan, anehnya lg nama Adiba dan no tlpnya ada di iklan2 jasa sarana pesta (dg nama Raflesia). berarti Raflesia dan adiba adalah org yg sama yg mengiklankan gambar tsb, memalukan! bersainglah secara jujur dan fair, toh masing2 dr kita kan mencari pasar untuk dapur masing2 tp hrs dg cara yg gentle dong. terima kasih.
Via Komentar.
- - -
Ada apa dengan blog saya? Kenapa belakangan ini blog saya jadi seperti kotak komplain di dunia maya? Apakah karena blog ini terlalu ngetop di Search Engine sehingga orang-orang jadi mudah untuk memasukan pesan/kritikan terhadap objek tertentu yang terkait dengan tulisan-tulisan saya?
"Eh, dah dikasih komentar, masih berisik. Seneng dong harusnya lo... Blog elo tuh jarang-jarang dikomentarin tau..." Iblis berbicara keras disamping kiri saya.
"He?" Saya bingung.
"Bukan begitu, pesan-pesan yang disampaikan itu sebetulnya menunjukan bahwa kamu adalah malaikat di dunia maya. Maka, bantulah mereka." Malaikat berbisik lembut disamping kanan saya.
"He???" Saya tambah bingung.
Ok deh... Kalau gitu, saya akan membantu si pak Gatot sebisa saya. Apa yang bisa saya bantu? Mungkin hanya ini:
Apa yang dilakukan oleh si Adiba alias Raflesia adalah sah-sah saja. Namanya juga usaha. Secara hukum, belum ada peraturannya untuk mencomot gambar/image orang lain. Paling banter, Pak Gatot bisa hubungi si Adiba alias Raflesia dan tegur bahwa dia telah mencuri gambar acara anda.
Katakan bahwa gambar acara anda tidak boleh untuk dipampang di layanan gratis id.88db.com secara sembarangan.
Kalau tidak dicopot dalam jangka waktu sekian, anda bisa melaporkan pengelola id.88db.com untuk memblokir account si Adiba alias Raflesia tersebut.
Tapi kalau pihak id.88db.com tidak mau membantu, ya sudah... Anggap saja anda tidak pernah lihat iklan Adiba alias Raflesia di situs id.88db.com.
***
Note: maaf, judulnya ngikut-ngikut blogger ngetop ituh ^_^. Sejujurnya, enak juga bikin judul begitu... Singkat dan passs.
Tuesday, March 11, 2008
Apa Enaknya Jadi Guru? (Bagian 1)
Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata GURU?
Pahlawan tanpa tanda jasa?
Seseorang yang suka menghukum?
Orang yang suka diliriki kala ingin menyontek?
Mungkin, kira-kira seperti itulah yang ada dibenak kita (atau saya saja? Halah...)
Nah, ngomong-ngomong soal guru, ternyata, teman saya, Lita, entah apa yang ada dipikirannya, telah menjadi seorang guru. Guru Kimia tepatnya. Menggondol ijazah sekolah top di Bandung, yang bisa saja melamar di perusahaan minyak dan diterima dan bergaji dollar, eh... Malah jadi seorang guru. Karena itu, saya penasaran. Saya coba interview si Lita. Sebelumnya, berhubung setelah di wawancara dan jawabannya panjang-panjang, maka hasil wawancara ini saya bagi menjadi 3 bagian. Dan ini dia hasil wawancaranya.
Bagaimana supaya bisa jadi guru?
Bertanya.
Mau jadi guru di mana? Kalau kita alumni situ, biasanya diprioritaskan sama sekolah yang bersangkutan. Masih kuliah tapi pengen ngajar di situ pun mungkin bisa.
Berniat.
Kalau cuma nanya doang tapi gak diteruskan usahanya ya gak jadi.
Memenuhi syarat.
Kembali ke yang pertama tadi. Tanya, syaratnya apa saja? Kita punya, ngga? Kalau ngga punya, masih bisa dipenuhi 'sambil jalan', ngga? Atau harus musti kudu dimiliki sejak awal?
*misal, skor IELTS, latar pendidikan tertentu, akta 4, dll.
Apa enaknya jadi guru?
Orgasmic hahaha...
Mendengar "Oooh... jadi begitu" itu 'nyandu'. Ada kepuasan pribadi untuk membantu orang lain mencapai/mengerti sesuatu :)
Merasa berguna dan dibutuhkan. Itu perasaan yang tidak bisa digantikan. Seperti teman :p
Enak yang lain... bayarannya? Hehehe...
Jadi guru ngga selalu memelas, kok. Betul, antar daerah tidak sama. Antara PNS dan guru honorer juga tidak sama (tentunya). Antara guru sekolah swasta dan negeri juga tidak sama.
Kenapa kita harus jadi guru?
Ngga ada yang mengharuskan. Tapi kalau ngga ada yang jadi guru, anakmu mau disekolahkan ke mana? Homeschooling? Pedagogi (ilmu mengajar) gimana? Belajar dulu? Sama aja, toh. Kita belajar ke guru dulu :)
Semua punya alasan masing-masing.
Alasanku: aku pengen kimia jadi lebih disukai dan bisa dipakai sehari-hari ngga terbatas hanya di kertas ujian.
Alasan lain: payback time. Balas budi.
Alasan yang lainnya lagi: Sekolah sedang bersiap melepas guru-guru yang akan pensiun. Sekolah butuh, aku merasa bisa memberikan yang dibutuhkan.
Pahlawan tanpa tanda jasa?
Seseorang yang suka menghukum?
Orang yang suka diliriki kala ingin menyontek?
Mungkin, kira-kira seperti itulah yang ada dibenak kita (atau saya saja? Halah...)
Nah, ngomong-ngomong soal guru, ternyata, teman saya, Lita, entah apa yang ada dipikirannya, telah menjadi seorang guru. Guru Kimia tepatnya. Menggondol ijazah sekolah top di Bandung, yang bisa saja melamar di perusahaan minyak dan diterima dan bergaji dollar, eh... Malah jadi seorang guru. Karena itu, saya penasaran. Saya coba interview si Lita. Sebelumnya, berhubung setelah di wawancara dan jawabannya panjang-panjang, maka hasil wawancara ini saya bagi menjadi 3 bagian. Dan ini dia hasil wawancaranya.
Bagaimana supaya bisa jadi guru?
Bertanya.
Mau jadi guru di mana? Kalau kita alumni situ, biasanya diprioritaskan sama sekolah yang bersangkutan. Masih kuliah tapi pengen ngajar di situ pun mungkin bisa.
Berniat.
Kalau cuma nanya doang tapi gak diteruskan usahanya ya gak jadi.
Memenuhi syarat.
Kembali ke yang pertama tadi. Tanya, syaratnya apa saja? Kita punya, ngga? Kalau ngga punya, masih bisa dipenuhi 'sambil jalan', ngga? Atau harus musti kudu dimiliki sejak awal?
*misal, skor IELTS, latar pendidikan tertentu, akta 4, dll.
Apa enaknya jadi guru?
Orgasmic hahaha...
Mendengar "Oooh... jadi begitu" itu 'nyandu'. Ada kepuasan pribadi untuk membantu orang lain mencapai/mengerti sesuatu :)
Merasa berguna dan dibutuhkan. Itu perasaan yang tidak bisa digantikan. Seperti teman :p
Enak yang lain... bayarannya? Hehehe...
Jadi guru ngga selalu memelas, kok. Betul, antar daerah tidak sama. Antara PNS dan guru honorer juga tidak sama (tentunya). Antara guru sekolah swasta dan negeri juga tidak sama.
Kenapa kita harus jadi guru?
Ngga ada yang mengharuskan. Tapi kalau ngga ada yang jadi guru, anakmu mau disekolahkan ke mana? Homeschooling? Pedagogi (ilmu mengajar) gimana? Belajar dulu? Sama aja, toh. Kita belajar ke guru dulu :)
Semua punya alasan masing-masing.
Alasanku: aku pengen kimia jadi lebih disukai dan bisa dipakai sehari-hari ngga terbatas hanya di kertas ujian.
Alasan lain: payback time. Balas budi.
Alasan yang lainnya lagi: Sekolah sedang bersiap melepas guru-guru yang akan pensiun. Sekolah butuh, aku merasa bisa memberikan yang dibutuhkan.
Monday, March 10, 2008
Programer = Kucing Dalam Karung?
Menerima pegawai khususnya karyawan programer sebetulnya gampang-gampang sulit. Atau sulit-sulit-gampang. Atau sulit banget? Ibaratnya membeli kucing dalam karung.
Kenapa?
Menerima lulusan kampus premium, belum jadi jaminan dia bisa bekerja dengan baik dan sempurna. Bisa saja dia bekerja tapi males-malesan dan tiap hari bukanya jobsdb.com untuk mendapatkan kantor dengan gaji yang lebih baik.
Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai tinggi, juga belum tentu jadi jaminan dia bisa bekerja dengan baik. Bisa saja nilai-nilainya di katrol oleh kampusnya.
Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai rendah, juga belum tentu dia tidak bekerja dengan baik. Mungkin saja, dengan IPK yang rendah, dia jadi terpacu untuk menjadi lebih baik dari kawan-kawannya.
Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai rendah tapi memiliki passion untuk bekerja lebih baik juga belum tentu jadi jaminan. Kalau emang dasarnya bego, kerjaan so pasti bakalan ORACLE, ora kelar-kelar.
Nah, memilih pegawai baru khususnya programer memang sebuah tantangan tersendiri. Menerimanya dengan menggunakan tes teknik pun belum tentu bisa mendapatkan karyawan yang bagus. Bisa saja dia memang apal soal-soalnya. Atau secara teknik dia baik. Tapi secara analisa, dia bisa saja blo'on. Dah dikasih tau begini, tetep aja, "Eh tadi gimana yah?"
Btw, kenapa saya cerita begini? Karena kantor saya sudah 1 tahun lebih mempekerjakan programmer bego, yaitu saya. Hahaha...
Just kidding boss...
Dah ahk, kerja lagi... (Stress mode on)
Subscribe to:
Posts (Atom)

