Showing posts with label manajemen. Show all posts
Showing posts with label manajemen. Show all posts

Wednesday, October 1, 2014

IT dan Marketing akan jadi 2 sejoli dalam urusan big data

Saat ini, IT dan marketing sudah semakin erat dalam bekerja sama. Marketing semakin membutuhkan data besar dan analisa untuk mencapai sukses. CMO dapat meningkatkan waktunya untuk memimpin projek-projek big data sementara CIO adalah kunci untuk mengimplementasikan, merawat dan meningkatkan seluruh solusi yang ada.

Marketing adalah supir dari mobil big data, kata Todd Merry, CMO global hospitality and food service company Delaware North.

Dari sisi IT, mereka menyiapkan seluruh sumber data bersamaan dan disisi marketing, mereka mengkonsumsi data tersebut dan menggunakan data itu untuk memberikan pengalaman kepada pelanggan.

Bisnis membutuhkan sudut pandang yang lebih berupa tindak nyata dan menyebrang keseluruh penjuru. Artinya, memiliki data yang tepat dan analisa yang prediktif untuk dipersiapkan dalam interaksi dengan customer kunci akan meningkatkan cross-sell dan up-sell.

Buoyancy, manajemen mendengar keluhan-keluhan

Kevin Allen, pengarang buku dan seorang PR Pro, telah memperhatikan bahwa saat ini semakin banyak perusahaan telah merubah mindset leadership mereka. Dari yang tadinya perintah-dan-kontrol menjadi sesuatu yang lebih lembut dan yang lebih fokus ke pelanggan.

Allen menyebutkan ada istilah baru dalam leadership mindset yaitu 'buoyancy'. 'Buoyancy' ini lebih menitikberatkan pada manajemen yang tidak peduli dengan metode perintah dari atas, tapi lebih mendengar keluhan-keluhan, kepedulian dan kebutuhan dari tim/karyawan atau pelanggan.

Leadership yang baik dijaman sekarang adalah seorang leader yang lebih banyak mendengar dan menyemangati untuk masukan dibanding membentengi untuk diberikan masukan.

Friday, August 2, 2013

Cara mengatasi anak buah yang ngambek

Kadang kala, sebagai pimpinan atau supervisor atau manajer dapat menghadapi situasi dimana anak buah tiba2 ngambek. Cara termudah untuk menghadapi hal ini adalah sbb:

1. Diamkan dulu 2 s.d 3 jam. Biarkan emosinya larut sedikit.

2. Ajak keruang meeting untuk berbicara 4 mata.

3. Tanya kenapa ngambek. Saat si anak buah bercerita, dengarkan dengan tenang.

4. Setelah selesai ditumpahkan uneg2nya, beri kata2 penengah. Kalau ada kesalahan dari kita, say sorry.

5. Jika selesai, salaman.

Itu saja.

Wednesday, April 17, 2013

Mengelola tim kerja

Memiliki tim kerja itu asyik. Tapi kalau urusan mengelola, itu perkara tidak mudah. Salah persepsi, gesekan antar staf, minta kenaikan gaji, minta berhenti, dst kerap terjadi. Mengatasi semua hal-hal tersebut memang ada banyak teorinya. Tapi pengalaman yang menentukan. Seperti ketika ada yang minta naik gaji, kita harus jeli dalam berbicara agar tidak memberi janji surga. Sama halnya ketika ada yang mau resign. Rata2 minta resign karena ingin kenaikan gaji, kita juga harus hati-hati dalam berbicara ketika hendak menahannya.

Urusan salah persepsi, juga butuh jam terbang. Kadang, kita memberi instruksi ABC, tapi yang ditangkap hanya AB. C nya mana?  Lupa. Kita harus mengulang lagi. Agar tidak terjadi, harus rajin diingatkan. Caranya, bisa briefing tiap pagi, kirim email atau ulang lagi sambil makan siang, dll.

Itu saja. Selamat mengelola tim kerja.

Friday, April 12, 2013

Kartu perawatan

Selama ini, saya cukup segan menggunakan kartu perawatan komputer. Kuno.

Tapi pemikiran ini sedikit tergeser ketika saya sedang menemani anak bermain di Ace Hardware Bekasi Barat. Di area display permainan anak, terpasang kartu perawatan untuk merawat permainan anak yang harganya sampai 180 juta rupiah. Sekelas Ace Hardware, tetap menggunakan kertas untuk melakukan perwatan.

Ternyata, memang tidak semua pekerjaan bisa dielektronisasi. Atau dibuat sistem aplikasi. Jika yang sederhana saja bisa dan efektif, kita bisa lakukan tanpa perlu berpikir yang terlalu canggih.

Wednesday, March 27, 2013

3 cara membeli barang pendukung departemen information technology

Dalam menjalankan departemen information technology atau dep IT, perlu dukungan barang-barang supporting seperti obeng, solder, vacuum cleaner, printer barcode, dll. Namun, untuk membeli barang2 pendukung tersebut, kita harus berhati-hati. Jangan sampai salah beli. Berikut tip atau cara membeli barang2 pendukung IT.

1. Minta penawaran dari 3 vendor yang berbeda. Tujuannya: untuk mendapatkan harga termurah.

2. Minta didemokan. Hal ini untuk memastikan barang yang dibeli tidak salah. Minta didatangi dan bawa barang demo.

3. Jika tidak bisa demo, datangi tokonya. Mintalah petunjuk cara pakai dan manfaatnya.

Ok. Itu saja.

Friday, March 22, 2013

Preventive maintenance di workshop

Apa itu preventive maintenance? Khususnya di dunia perbengkelan atau workshop.

Preventive maintenace adalah usaha perencanaan perbaikan supaya proses perbaikan bisa lebih cepat dilakukan.

Istilah ini berkembang dikala departemen workshop menjadi sorotan karena banyak permintaan urgent yang diakibatkan kurangnya perencanaan perbaikan.

Preventive maintenance menjadi sulit jika satu perusahaan memiliki banyak jenis unit mobil atau truk karena masing2 merek memiliki sparepart yang berbeda2.

Itu dulu.

Performance scorecard untuk cost center

Membuat performance scorecard untuk cost center sebetulnya tidak sesulit yang dibayangkan.

Cukup lakukan 3 pembagian: produktifitas, efektifitas dan kedisiplinan.

Produktifitas: hitung berapa tugas kerja dan keberhasilannya.

Efektifitas: hitung biaya perkepala dari total investasi yang telah dikeluarkan.

Disiplin: absensi, kehadiran meeting dan lain-lain.

Seperti itu saja.

3 cara sukses menjadi warehouse manager

Untuk menjadi warehouse manager, tidak sesulit yang dibayangkan loh. Bagaimana cara sukses menjadi warehouse manager.

1. Menguasai warehouse management system.

2. Adakan briefing setiap hari. Menjaga konsistensi kwalitas pekerjaan staf gudang tidak gampang. Namun dengan pertemuan berkala, segala kesulitan bisa cepat diselesaikan.

3. Investasi forklift? Jangan. Pilih sewa. Forklift rusak, anda tidak pusing perbaikannya.

Untuk no. 1, jika ada kebutuhan software WMS, silakan hubungi saya via email.

3 cara sukses menjadi distribution manager

Menjadi distribution manager itu tidak sulit. Berikut 3 cara untuk menjadi distribution manager yang sukses.

1. Memahami aplikasi transportation management system.

2. Pintar berbicara didepan umum. Terutama terhadap supir. Menjaga hati supir adalah hal yang cukup unik untuk ditangani.

3. Pintar bernegosiasi. Customer dunia distribusi cepat masuk & cepat keluar. Untuk itu, perlu pintar bernegosiasi agar pelanggan tidak lari.

Untuk nomor 1, jika anda membutuhkan aplikasi transportation management system, bisa contact saya via email :)

Tuesday, April 10, 2012

6 Topik Presentasi Kick Off Meeting

Jika diminta untuk melakukan presentasi kick off meeting, topik yang harus dibawakan hanya cukup  6. Berikut topiknya:

project organization
 
project plan
 
project scope
 
project key deliverables
 
project master data files
 
project check list

ke-6 topik ini sudah menjelaskan semua akan projek sistem informasi yang akan dijalankan.

Sunday, February 26, 2012

Bekerja di Waktu yang Tepat

Apa jadinya jika mencuci mobil di jam 4 sore? Pekerjaan mencuci mobil terasa lebih berat.

Kenapa? Karena mencuci di sore hari yang masih ada terik matahari, membuat hasil bilasan jadi cepat kering. Sehingga membuat mobil tidak mudah ketika dilap.

Mencuci mobil diwaktu yang tidak tepat, akan terasa seperti bekerja dua kali. Sama seperti aktifitas coding/programming/membuat program. Membuat program diwaktu yang tidak tepat, akan terasa lebih lama. Membuat modul yang seharusnya bisa dikerjakan 3 jam, tapi bisa setengah hari. Biasanya, saya kalau coding akan lebih efektif dijam-jam dimana ruangan sudah sepi. Disaat itu, konsentrasi bisa terpusat dan coding jadi lebih cepat dan lancar.

Sebetulnya, bekerja diwaktu ramai plus penuh gangguan bisa diakali dengan bekerja menggunakan headphone. Jadinya kita bisa �autis� sementara. Jadi, kalau kedapatan saya harus coding, maka dikala ruangan sedang ramai, komplenan juga ramai, saya berusaha mengerjakan membuat program yang ringan-ringan saja. Baru ketika ruangan sudah sepi, saya mulai membuat program dengan algoritma yang susah-susah.

Tuesday, October 14, 2008

Prinsip Main Rakit Asumsi Sendiri

"Saya menutup telepon dan seketika menyadari sesuatu: tangan saya gemetar. Saya marah. Saya murka. Merasa privasi saya diterjang dan diobrak-abrik. Orang itu datang ke teritori pribadi saya, berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri. Persis prinsip orang main hakim sendiri, tanpa ba-bi-bu merajam sang tersangka tanpa perlu memproses lebih lanjut. Senjatanya bukan batu, melainkan kata-kata. Merenungi itu semua dada saya pun sesak. Sesuatu bergolak sangat hebat."

Penggalan diatas saya ambil dari tulisan Dewi Lestari diblognya. Menarik, karena didalam software development, prinsip main rakit asumsi sendiri untuk membuat user specification, sering terjadi.

Dibilang Dee, "berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung panji kebenarannya sendiri."

Nah, kalau diubah sedikit menjadi, "berbekal asumsi yang ia rakit dari info sepotong, kemudian dengan gagah berani mengusung user specification sendiri." Itu terjadi dibeberapa Senior developer atau system analist khususnya mereka yang saya tahu dan selama saya bekerja lebih dari 5 tahun berkecimpung di IT.

Sering banget saya menemukan hal seperti itu. Punya info sedikit, lalu dengan pedenya berasumsi sebuah flow proses bisnis adalah ini, ini dan ini. Tapi, setelah diimplementasi dan user mencoba, ternyata bukan ini, ini dan ini. Malah itu, ini dan itu.

Sakit hati? Jelas.
Capek? Pasti.
Emosi? Ga perlu. Selama saya masih jadi kopral, perintah komandan mesti dijalankan, meskipun cuma berbekal bambu runcing sedangkan lawan menggunakan Bazoka.

Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa begitu? Asumsinya ada dua:
1. Senior developer atau System Analist malu(males) bertanya, yang berakibat sesat dikerjaan.
2. Senior developer atau System Analist memang kelewat pede.

Solusinya?
Seperti tadi saya bilang: Selama masih jadi kopral, perintah komandan mesti dijalankan, apa pun itu meski berbekal bambu runcing sedangkan lawan menggunakan Bazoka.

Wednesday, April 23, 2008

Manajemen Resiko & Uang 100 Juta

Ternyata tulisan "Bahkan Burung Pun Diberi Makan Oleh Yang Maha Kuasa" ada yang menanggapi dengan serius. Blog yang ga serius ini tumben-tumbenan ada yang menyanggah dengan serius. Hehehe...

Dan mengenai tanggapan tersebut khususnya bisnis memiliki resiko, saya akan coba menanggapi kembali dalam sebuah tulisan. Penyanggah adalah bernama Fikri dan dia bilang seperti ini:
Namun saya tidak sependapat dengan anda dalam beberapa hal.

"Bagaimana jika perusahaan network-marketing tempat kita bergabung bangkrut setelah kita meng-investasikan beberapa tahun dalam bentuk waktu dan usaha? Semuanya menjadi sia-sia saja, bukan?"

Namanya juga bisnis pak. Semuanya memiliki resiko. dan itu resiko yang harus diambil jika menjalankan bisnis. Sebuah bisnis, apapun bisnis tersebut, memiliki resiko.

Bisnis memang penuh resiko. Tapi yang namanya resiko itu bisa dikelola. Setidaknya bisa dihindari. Makanya ada ilmu manajemen resiko. Menurut wikipedia, manajemen resiko adalah proses pengukuran atau penilaian risiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu.

Manajemen risiko memang belum popular dibanding bidang studi lainnya, seperti manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia, atau manajemen produksi. Tapi pemahaman tentang manajemen risiko saat ini menjadi semakin dibutuhkan sejak krisis ekonomi menimpa Indonesia beberapa waktu yang lalu, beberapa perusahaan, termasuk bank-bank, satu-persatu gulung tikar. Kemungkinan sebagian dari mereka tidak siap untuk menghadapi risiko-risiko yang berhubungan dengan perubahan pasar, politik, atau mungkin sosial.

Karena itu, menurut RONNY KOUNTUR, D.M.S., Ph.D., proses manajemen risiko bisa dilakukan dengan langkah-langkah:
(1) identifikasi risiko
(2) pengukuran risiko, termasuk pemetaan risiko,
(3) penanganan resiko yang mencakup pengendalian dan pendanaan risiko.

Untuk perusahaan network-marketing, soal manajemen resikonya, mereka tidak terlalu terbuka. Makanya saya kurang setuju dengan jenis perusahaan tersebut. Yang mereka tonjolkan hanyalah sebuah bisnis yang bisa menghasilkan uang, uang, uang, uang dan uang. Mereka menutupi resiko yang tinggi dengan bicara peningkatan pendapatan, pendapatan, pendapatan, pendapatan dan pendapatan sehingga kita dibuat bias tentang resiko. Berbeda dengan perusahaan yang riil seperti XL, mereka bahkan menginformasikan soal bagaimana mereka menerapkan Kerangka Kerja Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Risk Management/ERM) secara holistik dan terintegrasi ke semua unit organisasi di situsnya.

Kesimpulan
Saya memang belum pernah berbisnis. Nulis ini juga mencomot referensi dari sana-sini. Dan pengalaman! Seseorang yang saya kenal sudah terkena batunya gara-gara bisnis network-marketing. Dan alasan "Namanya juga bisnis pak. Semuanya memiliki resiko." adalah bukan alasan yang bijak ketika uang 100 juta dibawa kabur!!!

Tuesday, April 1, 2008

Apakah Karyawan Itu?

Atasan saya pernah bertanya, "Apakah karyawan itu?"

Lalu dari kami menjawabnya bermacam-macam. Tapi atasan saya tidak memberikan jawaban dan membiarkannya menggantung. Jadi, saya kembali bertanya kepada teman-teman kantor lama saya, sekalian ngobrol kangen.

1. Gie

+ : Gie, apa arti dari karyawan? Gue sempet ditanya ama bos gue nih.
- : parahhh lo!!..emang napa nih man..waz up??
karyawan = orang2 yg sudah "menjual waktunya" kepada orang yg punya lebih banyak duit daripada dirinya
karyawan. Karya tu = kerja
jadi harafiahnya ya orang yg bekerja
kenapa juga bos lo smp nanya kayak gitu?
+ : cuma mau kita merenung... hehe... kurang kerjaan yeh
- : mannnn... kalo gw nga salah ngerti sih ni yeee.. kalo sampe bos ada yg ngomong gitu.. artinya dia udah ada rasa "kecewa/kesel" sama anak2 buahnya gitu??
+ : iye apalagi ma gue...
- : hahahahhaa... pantessszzzzz

***

2. Victor

+ : Vic, apa arti dari karyawan?
- : hasil..
asal kata dari karya...
wan itu sebutan untuk pria arab...
jadi karyawan itu pria arab yg menghasilkan....
+ : bener2 (bener-bener gelo)

***

3. Yandy

+ : Yan, apa arti dari karyawan?
- : hmm apa yah? orang yang bantu2 he3
+ : bantu2 doang? ga dapet gaji ?
- : wah kalo sama boss mah karyawan adalah aset perusahaan he3
karyawan asset perusahaan soalnya kalau sampe ada yang mogok kerja sama aja kaya mesin yang rusak jadi harus dirawat baik2 dengan digaji he3
- : mantap yah jawaban gue
mantap bos... hahaha... lu belajar dimana tuh ?
- : banyak2 baca buku he3
+ : sedaaap
- : mangkanya karyawan harus sejahtera biar setia sampe mati he3. gajinya harus dicukupi ngga kaya di kantor lama kita dulu
+ : hahaha

***

4. Marlin

+ : Lin, apa arti dari karyawan?
- : maksud lo ?
+ : iya, definisi karyawan menurut elo apa?
- : iyah pegawai lah
+ : pegawai itu apa?
- : karyawan
+ : bisa ga digaji ga?
- : gak lah
namanya pegawai yah digaji
kl ga digaji namanya budak dong
napa? lo ga digaji ?
+: He?

***

Nah, teman. Apakah anda punya definisi karyawan yang lain? Atau sama saja seperti yang dijelaskan teman-teman saya barusan?

Sekali lagi, apakah karyawan itu?

Thursday, March 13, 2008

S1? Jadi Guru? Ga Banget Deh... (Bagian 3)

Bagaimana menjadi guru yang baik dan benar?

Belajar terus. Jangan pernah berhenti.
Belajar dari murid itu ngga dosa. Murid bisa lebih pinter, lho :)

Apa pengalaman paling mengesankan jadi guru?

Dikritik guru lain gara-gara waktu di jam beliau, anak-anak
mengerjakan tugas dariku.
*padahal... waktu jam pelajaranku atau jam lain, anak-anak mengerjakan
tugas dia atau belajar pelajaran beliau hihihi...

Mmmm... di'goda'in di kelas.
M (murid): "Miss, kalo angkatan 2002, berarti seangkatan dong sama
Nicholas Saputra?"
A (aku): *bengong, cuma alis berkerut*
M: "Miss angkatan 2002, kan?"
A: "Ngga. Kapan saya bilang begitu?"
T (teman-teman): *ngakak* "Sok tau looooooooo"
M: "Kirain. Abis miss keliatan kaya angkatan 2002, sih"
T: *ngakak lagi* "Huuuuuuuuuuuu"
A: "Halah halah. Dear, don't flirt with me"

Atau... "Miss, kok miss baik banget, sih?", waktu aku -yang saat itu
mulai terkikis kesabarannya- masih berusaha supaya anak-anak mau
denger & berusaha ngerti materi.

Atau... disangka temennya orangtua murid, waktu lagi duduk-duduk
bareng ortu murid di bangku.
Lalu disapa sama satu murid, "Mari, tante" dan si orangtua murid
marah, "Heh, ini guru kamu tauk!" hehehe... *kalem, bu... saya guru
baru dan ngga ngajar kelas dia, wajar aja ngga tau (eh tapi kan daku
pake seragam, yak?)

Ada aja, lah. Selalu ada cerita setiap hari :)

"Saya seorang S1, masak jadi guru... ga banget deh.." -> bagaimana kalau ada orang yang ngomong gitu?

Laaahh... Guru SMA kan minimal S1. Nyadar diri, atuh. Cuma punya persyaratan minimal kok protes :D
Maunya malah kalau bisa nanti guru yang S1 sekolah
Bukan guru SMA? Ya kembali ke pribadi. S2 ngajar SD juga gak protes, tuh. Iya, ada. Yang protes malah orang lain :)
Kalau memang maunya begitu, ya jalani aja. Gak usah mikirin pendapat orang lain :)
Kalau ngga mau, ya sudah jangan cela yang pengen :)
Guru itu profesi yang harus sepenuh hati. Jadi kalau setengah-setengah, kasian murid lha ya.
Masa buat anak kok coba-coba hehehe...

Ini satu yang harus dipikirkan: kalau profesi guru selalu jadi pilihan kedua atau seterusnya, maka kita akan diajar oleh orang-orang yang *mungkin* tidak sepenuh hati ingin dan kemampuannya tidak setinggi
mereka yang memilih *apapun itu* sebagai pilihan pertama.

Betul, kemampuan bisa dipoles. Guru SMP yang masih mendampingi saya sampai sekarang juga tidak memilih guru sebagai pilihan pertama. Guru adalah 'pengisi waktu senggang', kata beliau. Tapi toh beliau termasuk
wali kelas favorit yang dikenal mampu menangani 'anak-anak bandel', termasuk saya yang dimasukkan ke asuhannya hehehe...

Namun berapa banyak yang begini? Pilihan pertama tidakkah punya kemungkinan lebih besar untuk lebih ditekuni, lebih berhasil, dan lebih sreg di hati?
Kita butuh banyak orang yang MAMPU dalam keilmuan DAN memilih menjadi guru, ketimbang terpaksa menjadi guru (daripada ngga kerja, misalnya).

--

Thanks Lita untuk interviewnya ^_^

(Blog Lita -> http://lita.inirumahku.com )

Wednesday, March 12, 2008

Suka Duka Jadi Guru (Bagian 2)

(Sambungan dari tulisan ini)

Apa suka duka jadi guru?


Dicuekin.
Jamak, sebagai guru baru. Anak ngga kenal, "Siapa elu".
Kalau murid sekelas sedang 'malas berjamaah', wah udah deh.
Males-malesan semua. Ngga ada respon kalo ditanya, ngga ada yang nanya
kalo ditawari untuk bertanya.

Dibandingkan.
"Aduuhhh guru yang dulu lebih enak, deh" *ngga tentang ke aku, sih,
ini cerita beberapa teman guru*

Capek.
Hahaha... kerjaan mana yang ngga capek? Semua juga ada capeknya kok, ya.
Hanya, bagi mereka yang berpendapat bahwa menjadi guru itu santai, well... think 10 times. Again.
Kalau hanya melihat jam mengajar di kelas, tampaknya memang enak.
Datang jam 10, nanti jam 1 sudah pulang.
Yang tidak kelihatan: menyiapkan materi/bahan ajar di rumah, menyiapkan soal & jawaban, mencari referensi yang enak disimak
setingkat kemampuan murid, belajar, belajar, belajar.
Ilmu kan berkembang terus, ya. Jadi harus update sendiri. Pegangan mengajar tidak harus diktat.
Lagipula, banyak yang sudah lupa. SMA kan bertahun-tahun yang lalu.
Lha wong apa yang baru dibaca seminggu lalu saja bisa lupa, apalagi yang sudah lama.
Mengoreksi semua PR, tugas, kuis, dan ulangan itu. Pilihan ganda memang memudahkan, tapi kurang mendidik anak untuk berpikir luas dan kreatif. Sedangkan isian jelas menyita waktu dan energi untuk yang
mengoreksi.

Sukanya.......
Seneng deh kalo lihat anak-anak ngerti & paham materi :)
Seneng lihat anak-anak kalau sedang antusias, sampe minta dikasi soal untuk latihan hehehe... "Miss, aku juga mau, dong!", "Miss, minta soal yang lain lagi, dong!", "Miss, buat aku mana?" sampe rebutan spidol untuk ngerjain di papan tulis :D
Seneng kalo banyak ditanya, walau ngga selalu siap dengan jawaban yang memuaskan :) *biasanya aku jadikan PR, yang kujawab di pertemuan selanjutnya*
Seneng lihat anak seneng dapet nilai bagus.
Seneng lihat jawaban/respon cerdas anak, yang jawabannya ngga ada di textbook.
Seneng kalau disapa di lorong, di luar kelas, atau ketemu di luar
sekolah. "Hello, miss Lita"
Seneng punya kesempatan besar untuk belajar. Punya buku bagus dan 'keren' tapi ngga mengeluarkan biaya dari kantong sendiri hehe...
Seneng punya temen-temen guru yang klop dan ngga keberatan sharing tips mengajar.
Seneng ketemu temen baru yang enak banget diajak diskusi. Seringkali seide dan seumur, tambah asik :)
Seneng kok kalau payday tiba hehehe...
Seneng mejeng di buku tahunan murid hahaha.... *narsis*

Tuesday, March 11, 2008

Apa Enaknya Jadi Guru? (Bagian 1)

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata GURU?

Pahlawan tanpa tanda jasa?

Seseorang yang suka menghukum?

Orang yang suka diliriki kala ingin menyontek?

Mungkin, kira-kira seperti itulah yang ada dibenak kita (atau saya saja? Halah...)

Nah, ngomong-ngomong soal guru, ternyata, teman saya, Lita, entah apa yang ada dipikirannya, telah menjadi seorang guru. Guru Kimia tepatnya. Menggondol ijazah sekolah top di Bandung, yang bisa saja melamar di perusahaan minyak dan diterima dan bergaji dollar, eh... Malah jadi seorang guru. Karena itu, saya penasaran. Saya coba interview si Lita. Sebelumnya, berhubung setelah di wawancara dan jawabannya panjang-panjang, maka hasil wawancara ini saya bagi menjadi 3 bagian. Dan ini dia hasil wawancaranya.


Bagaimana supaya bisa jadi guru?

Bertanya.
Mau jadi guru di mana? Kalau kita alumni situ, biasanya diprioritaskan sama sekolah yang bersangkutan. Masih kuliah tapi pengen ngajar di situ pun mungkin bisa.

Berniat.
Kalau cuma nanya doang tapi gak diteruskan usahanya ya gak jadi.

Memenuhi syarat.
Kembali ke yang pertama tadi. Tanya, syaratnya apa saja? Kita punya, ngga? Kalau ngga punya, masih bisa dipenuhi 'sambil jalan', ngga? Atau harus musti kudu dimiliki sejak awal?
*misal, skor IELTS, latar pendidikan tertentu, akta 4, dll.

Apa enaknya jadi guru?

Orgasmic hahaha...
Mendengar "Oooh... jadi begitu" itu 'nyandu'. Ada kepuasan pribadi untuk membantu orang lain mencapai/mengerti sesuatu :)
Merasa berguna dan dibutuhkan. Itu perasaan yang tidak bisa digantikan. Seperti teman :p

Enak yang lain... bayarannya? Hehehe...
Jadi guru ngga selalu memelas, kok. Betul, antar daerah tidak sama. Antara PNS dan guru honorer juga tidak sama (tentunya). Antara guru sekolah swasta dan negeri juga tidak sama.

Kenapa kita harus jadi guru?

Ngga ada yang mengharuskan. Tapi kalau ngga ada yang jadi guru, anakmu mau disekolahkan ke mana? Homeschooling? Pedagogi (ilmu mengajar) gimana? Belajar dulu? Sama aja, toh. Kita belajar ke guru dulu :)

Semua punya alasan masing-masing.
Alasanku: aku pengen kimia jadi lebih disukai dan bisa dipakai sehari-hari ngga terbatas hanya di kertas ujian.
Alasan lain: payback time. Balas budi.
Alasan yang lainnya lagi: Sekolah sedang bersiap melepas guru-guru yang akan pensiun. Sekolah butuh, aku merasa bisa memberikan yang dibutuhkan.

Monday, March 10, 2008

Programer = Kucing Dalam Karung?



Menerima pegawai khususnya karyawan programer sebetulnya gampang-gampang sulit. Atau sulit-sulit-gampang. Atau sulit banget? Ibaratnya membeli kucing dalam karung.

Kenapa?

Menerima lulusan kampus premium, belum jadi jaminan dia bisa bekerja dengan baik dan sempurna. Bisa saja dia bekerja tapi males-malesan dan tiap hari bukanya jobsdb.com untuk mendapatkan kantor dengan gaji yang lebih baik.

Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai tinggi, juga belum tentu jadi jaminan dia bisa bekerja dengan baik. Bisa saja nilai-nilainya di katrol oleh kampusnya.

Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai rendah, juga belum tentu dia tidak bekerja dengan baik. Mungkin saja, dengan IPK yang rendah, dia jadi terpacu untuk menjadi lebih baik dari kawan-kawannya.

Menerima lulusan kampus abal-abal dengan nilai rendah tapi memiliki passion untuk bekerja lebih baik juga belum tentu jadi jaminan. Kalau emang dasarnya bego, kerjaan so pasti bakalan ORACLE, ora kelar-kelar.

Nah, memilih pegawai baru khususnya programer memang sebuah tantangan tersendiri. Menerimanya dengan menggunakan tes teknik pun belum tentu bisa mendapatkan karyawan yang bagus. Bisa saja dia memang apal soal-soalnya. Atau secara teknik dia baik. Tapi secara analisa, dia bisa saja blo'on. Dah dikasih tau begini, tetep aja, "Eh tadi gimana yah?"

Btw, kenapa saya cerita begini? Karena kantor saya sudah 1 tahun lebih mempekerjakan programmer bego, yaitu saya. Hahaha...

Just kidding boss...

Dah ahk, kerja lagi... (Stress mode on)

Tuesday, January 22, 2008

Filosofi Sepatu



Apakah anda tahu bahwa programer itu ibarat sepatu? Ya, benar. Berikut ini saya akan coba menjelaskannya. Disini kita akan mengibaratkan sepatu adalah programer. Sedangkan pemakai sepatunya adalah sang bos atau pemilik perusahaan.

Jika sepatu terlalu sering dipakai, maka sepatu akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Begitu juga dengan perusahaan yang terlalu memaksakan programernya bekerja tiada henti. Alhasil, setelah dipakai, sang programer akan mengeluarkan bau-bau yang tidak sedap. Seperti ngomel-ngomel di pantri kalau si bos tuh resek nyuruh-nyuruh ini itu sampai berhari-hari. Atau ngomel-ngomel di internet via blog atau situs-situs pelepas amarah. Atau curhat via messanger soal si bos yang resek. Pokoknya si bos pengennya dihajar gara-gara nyuruh ini itu tanpa henti.

Sepatu harus sering di semir. Kalau tidak, kotorannya makin tebal dan tebal. Begitu juga dengan perusahaan yang tidak pernah memberikan training buat programernya. Jika programer tidak pernah dikasih training, maka otaknya akan makin penuh dengan �kotoran� berupa kerjanya makin doyan chatting, persentase kerja dengan ngeblog lebih besar ngeblog, kerjaan terbengkalai karena lebih memilihi mengurusi side job, dan kotoran-kotoran lainnya. Jikalau perusahaan memberikan training untuk programernya, otomatis dia akan sadar bahwa ternyata ada teknologi baru atau ilmu baru yang belum dikuasainya. Setelah dia menyadari hal itu, dia akan getol lagi belajar teknologi atau ilmu baru tersebut. Akibatnya? Pekerjaan makin cepat selesai dan efektif. Atau bahaya-bahaya berupa eror-eror aplikasi bisa cepat diatasi.

Ketika memakai sepatu, gunakanlah sepatu yang benar. Kalau bekerja, gunakan sepatu kerja. Ketika berolahraga, gunakan sepatu olahraga. Begitu juga dengan programer. Ketika ada programer yang doyannya ngeblog, fungsikan si programer lebih banyak di bagian dokumentasi atau help manual. Alhasil karyanya akan enak dibaca dibanding jika seorang gila koding disuruh nulis. Bisa-bisa bahasa Indonesia bercampur dengan sintaks bahasa program. Juga ketika ada programer yang doyan dengan anime atau manga. Fungsikan si programer untuk membuat tampilan aplikasi yang menarik. Otomatis pengguna aplikasi bakal suka karena enak dipandang dan dirasakan. Begitu juga jika ada programer yang gampang naik pitam alias darah tinggian. Fungsikan saja dia sebagai Quality Assurance. Dengan begitu, para programer bakalan takut bikin program asal-asalan karena takut dimarahi oleh si QA doyan marah ini.

Nah, mungkin penjelasan barusan bisa diterima oleh akal tidak sehat anda. So, have a good day.